Pemerintah Kota Yogyakarta menggenjot penanganan sampah dengan mengandalkan biopori jumbo sebagai strategi pengolahan sampah organik dari sumbernya, di tengah keterbatasan lahan. Program ini ditujukan untuk menekan volume sampah sekaligus mendorong pemanfaatan hasil olahan bagi warga.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyebut hingga awal 2026 telah terpasang sekitar 600 unit biopori jumbo di sejumlah wilayah. Pemkot menargetkan penambahan 400 unit pada tahun ini sehingga totalnya menjadi 1.000 biopori jumbo yang tersebar di seluruh wilayah kota.
Menurut Hasto, setiap biopori jumbo memiliki kapasitas menampung hingga dua ton sampah organik rumah tangga. Dengan target 1.000 titik, ia memperkirakan ada sekitar 2.000 ton sampah organik yang bisa ditahan dan diolah di sumbernya.
Sampah organik yang dimasukkan ke dalam biopori jumbo akan diproses menjadi kompos. Pemkot mendukung percepatan proses tersebut melalui penyediaan aktivator serta bantuan tenaga panen yang memerlukan keahlian khusus.
Selain menekan volume sampah, program ini juga diarahkan memberi dampak ekonomi. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri atau dijual oleh warga. Hasto menegaskan hasil penjualan sepenuhnya menjadi milik masyarakat.
Pemkot juga berencana mengintegrasikan program biopori jumbo dengan Integrated Farming Program serta pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO). Pada 2026, tiga sentra UPO disiapkan di sekitar Pasar Pasty, Tegalgendu, dan Tegalrejo. Hasto menyebut lokasi Tegalgendu dan Tegalrejo memungkinkan pengembangan pertanian, termasuk di Tegalrejo yang masih memiliki sawah.
Salah satu wilayah yang telah memanfaatkan biopori jumbo adalah Kampung Mangkuyudan, Kelurahan Mantrijeron. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari, Sumarsini, mengatakan pemanfaatan biopori jumbo di RW 05 berjalan sejak 2021. Dari satu unit biopori jumbo, sampah organik yang tertampung dapat mencapai dua ton, dengan hasil panen sekitar 550–600 kilogram kompos. Ia menyebut hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas kompos memenuhi standar dan aman digunakan untuk pertanian.
Sumarsini menjelaskan warga disosialisasikan untuk memilah sampah dari rumah. Sampah organik dibuang ke biopori, sementara sampah anorganik disalurkan ke bank sampah. Untuk mempercepat pembusukan, sampah organik diolah dengan tambahan tetes tebu dan EM4. Setelah sekitar enam bulan, kompos dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai media tanam.
Kompos dari biopori jumbo di Mangkuyudan, kata Sumarsini, diserap langsung oleh program urban farming warga melalui konsep lorong sayur. Lorong-lorong kampung dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan buah, sehingga warga dapat menikmati hasil panen sendiri, dinilai lebih sehat, sekaligus membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.

