Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, melanjutkan pembangunan infrastruktur menuju kawah Gunung Kelud di Kecamatan Ngancar. Langkah ini dilakukan untuk menghidupkan kembali aktivitas pariwisata di kawasan gunung setinggi 1.731 meter di atas permukaan laut tersebut.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menargetkan pembangunan bisa diselesaikan pada 2026. Ia meminta pembangunan jalan dilakukan hingga ke kawah, namun tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Selain pembangunan jalan, bupati menekankan agar faktor lain yang memengaruhi daya tarik wisatawan juga diperhatikan dalam pengerjaan proyek infrastruktur di kawasan Gunung Kelud. Ia berharap Gunung Kelud sebagai salah satu destinasi wisata alam andalan Kabupaten Kediri dapat kembali seperti masa kejayaannya, termasuk sebelum masa pandemi.
Di luar Gunung Kelud, bupati juga meminta perbaikan untuk mendukung destinasi wisata lain, yakni wisata air Ubalan di Kecamatan Plosoklaten serta wisata Gunung Wilis di Kabupaten Kediri.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kediri Irwan Candra Wahyu Purnama mengatakan pembangunan jalan menuju kawah Gunung Kelud menjadi perhatian pemerintah kabupaten. Menurut dia, bupati telah menginstruksikan agar pembangunan segera dituntaskan.
Irwan menyebut proyek tersebut telah dimulai pada 2025 dan akan dilanjutkan kembali pada 2026. Pada 2025, anggaran yang disediakan sekitar Rp650 juta dari APBD Kabupaten Kediri. Sementara kebutuhan anggaran untuk 2026, ia mengatakan masih menunggu data lebih lanjut. Program lanjutan itu juga telah masuk dalam rencana kerja Dinas PUPR Tahun 2026.
Pembangunan infrastruktur ini, kata Irwan, tidak hanya ditujukan untuk memudahkan akses wisatawan, tetapi juga mendukung akses petugas dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang rutin melakukan pemantauan aktivitas Gunung Kelud.
Pada 2025, Dinas PUPR Kabupaten Kediri mengerjakan pembangunan jalan menuju kawah sepanjang 241 meter dengan lebar 4 meter. Untuk perbaikan akses menuju kawah gunung berapi yang masih aktif tersebut, konstruksi yang digunakan direncanakan berupa cor beton karena dinilai lebih kuat dan lebih tahan dibandingkan aspal.
Irwan menjelaskan, selain potensi kerusakan akibat erupsi, pada musim hujan risiko kerusakan jalan beraspal juga lebih besar. Sebelumnya, pada 2019, pembangunan jalan akses menuju kawah Gunung Kelud telah dilakukan menggunakan struktur cor beton atau rigid pavement. Namun, sebelum masuk terowongan, pekerjaan jalan saat itu hanya berupa pengerasan CBT (cement treated base). Seiring waktu dan tergerus air hujan, kondisi ruas tersebut kemudian mengalami kerusakan.

