BERITA TERKINI
Industri Sawit Indonesia Masuki Fase Penentuan, Pasokan dan Keberlanjutan Jadi Tantangan

Industri Sawit Indonesia Masuki Fase Penentuan, Pasokan dan Keberlanjutan Jadi Tantangan

YOGYAKARTA — Industri kelapa sawit Indonesia dinilai memasuki fase penentuan, bukan hanya dalam mempertahankan posisi sebagai produsen terbesar dunia, tetapi juga dalam memastikan pasokan yang cukup, berkualitas, dan berharga wajar di tengah meningkatnya permintaan global serta tekanan terhadap aspek keberlanjutan.

Pandangan itu disampaikan Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin, dalam Seminar Nasional Sawit yang digelar UPN Veteran Yogyakarta pada Kamis, 22 Januari 2026.

Bustanul menyebut Indonesia menyumbang sekitar 48 persen dari total produksi minyak sawit dunia. Pada 2025, luas perkebunan kelapa sawit nasional diperkirakan mencapai 17,1 juta hektare dengan produksi crude palm oil (CPO) sekitar 49,4 juta ton.

Di tengah persaingan minyak nabati global, ia menilai sawit tetap unggul dari sisi efisiensi. Menurutnya, dibandingkan minyak kedelai, bunga matahari, rapeseed, dan minyak nabati lain, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak lebih besar per satuan lahan.

Namun, Bustanul menekankan keunggulan tersebut tidak otomatis menjamin keberlanjutan industri apabila tidak diikuti pengelolaan pasokan yang cermat.

Ia juga menyoroti kebijakan mandatori biodiesel B40 sebagai salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga CPO dan minyak goreng. Dampaknya, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani ikut naik.

Kenaikan harga itu, kata Bustanul, dapat menjadi kabar baik bagi petani sawit. Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah dan pelaku industri agar tidak lengah terhadap risiko ketidakseimbangan pasokan. Menurutnya, tanpa perencanaan pasokan yang matang, kenaikan harga berpotensi memicu gejolak di sektor hilir maupun pada konsumen.

Dari sisi tata kelola, Bustanul menilai Indonesia telah memiliki berbagai instrumen sertifikasi sawit berkelanjutan. Skema sukarela seperti RSPO dan ISCC berjalan berdampingan dengan sertifikasi wajib Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Meski begitu, ia menilai implementasinya di lapangan masih berjalan lambat, padahal sertifikasi menjadi salah satu kunci untuk menjawab tuntutan pasar global terkait lingkungan dan keberlanjutan produksi.

Ia juga menekankan penguatan sektor hulu tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam karena karakter petani sawit rakyat beragam. Menurutnya, terdapat petani kecil yang terintegrasi dengan perusahaan atau LSM, petani mandiri yang bergantung pada pedagang perantara, hingga petani dalam skema kemitraan seperti KKPA dan NES. Diferensiasi ini, kata dia, perlu menjadi dasar perumusan kebijakan agar program pemberdayaan dan bantuan teknis tepat sasaran.

Dalam paparannya, Bustanul mencatat konsumsi minyak nabati dunia terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 6,3 juta ton per tahun selama dua dekade terakhir. Minyak sawit dan minyak kedelai disebut masih menjadi penentu utama harga global karena menguasai sekitar 57 persen konsumsi dunia.

Di saat permintaan terus naik, ia menilai pertumbuhan pasokan mulai menunjukkan perlambatan. Kondisi tersebut, menurut Bustanul, akan menjadi ujian terbesar bagi industri sawit Indonesia ke depan: menjaga keseimbangan antara ekspansi, keberlanjutan, dan stabilitas harga.