JAKARTA — Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo mengklaim telah mencapai swasembada beras dalam waktu satu tahun, lebih cepat dari target empat tahun. Sepanjang 2025, produksi beras nasional disebut mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi sekitar 31,19 juta ton.
Dengan produksi yang lebih tinggi dari kebutuhan, pemerintah menyatakan terjadi surplus dan impor beras konsumsi dihentikan. Capaian tersebut juga diklaim mendorong cadangan beras pemerintah ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Presiden Prabowo mengatakan stok beras di gudang pemerintah saat ini berada pada level tertinggi sejak Republik Indonesia berdiri. “Saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan capaian pada periode sebelumnya. Menurutnya, pada puncaknya di era Presiden Soeharto, cadangan beras pemerintah pernah mencapai 2 juta ton. “Hari ini, cadangan beras kita lebih dari 3 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” kata Prabowo.
Presiden menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras berbagai unsur pemerintah. “Ini saya kira adalah akibat kerja keras semua unsur,” pungkasnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut keberhasilan swasembada beras Indonesia mendapat perhatian internasional. Ia mengatakan sejumlah pejabat pertanian dari negara lain datang ke Indonesia untuk melihat langsung capaian tersebut, termasuk dari Jepang, Chile, Kanada, dan Belarus.
“Yang menarik adalah negara maju pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia. Menteri pertaniannya dari Jepang, datang dari Chile, Kanada, Belarus. Ini negara-negara yang tidak pernah datang ke Indonesia,” ujar Amran.
Ia menambahkan Australia dan Rusia juga datang dengan pertanyaan mengenai langkah yang dilakukan Indonesia. “Datang dengan pertanyaan apa yang dilakukan Indonesia (sehingga bisa) melompat (menjadi) nomor 2 dunia,” katanya.
Amran turut mengapresiasi peran kepala daerah di wilayah pertanian. Ia menyampaikan pernyataan bahwa harga pangan dunia turun dari 660 dolar AS menjadi 368 dolar AS per ton, atau turun 44 persen, dan mengaitkannya dengan kontribusi para bupati di Indonesia.
“Indonesia tidak impor lagi. Ini kebanggaan kita semua,” tegas Amran.
Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menjelaskan indikator teknis swasembada beras berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, produksi beras 2025 yang melebihi 34 juta ton dibanding kebutuhan hampir 31 juta ton menunjukkan adanya surplus sekitar 3 juta ton.
“Kalau kita melihat berdasarkan data dari BPS, produksi beras kita kan lebih dari 34 juta ton di tahun 2025. Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada,” jelas Ketut.
Ketut menyebut tiga dampak dari capaian tersebut, yakni tidak adanya impor beras pada tahun ini, produksi yang melampaui konsumsi, serta stok Bulog yang relatif tinggi. “Stok Bulog pun juga relatif tinggi, lebih dari 3 juta ton,” ujarnya.

