Rencana pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau Tanggul Laut Raksasa untuk perlindungan pesisir Jakarta memasuki tahap baru. Pemerintah menetapkan jadwal peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut pada September 2026.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti menyampaikan bahwa pendanaan tahap awal pembangunan GSW Jakarta dalam waktu dekat akan memanfaatkan anggaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. “Anggarannya bermacam-macam, tapi kalau yang dalam waktu dekat mungkin dari anggaran DKI,” ujar Diana usai rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, dikutip Selasa (20/1/2026).
Menurut Diana, meski ke depan disiapkan berbagai skema pendanaan, alokasi dari APBD DKI menjadi pendorong utama agar proyek dapat dimulai sesuai target September 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan kesiapan pemerintah daerah menjalankan porsi pekerjaan yang lebih besar. Panjang tanggul yang akan dikerjakan oleh Jakarta disebut meningkat menjadi 19 kilometer, dari rencana sebelumnya 12 kilometer. “Mau 12 (kilometer), mau 19 (kilometer) Jakarta akan mengerjakan. Tetapi kapan dimulainya, rencananya groundbreaking-nya itu mulai bulan September tahun ini,” kata Pramono.
Pada tahap awal, proyek GSW disebut tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik tanggul, melainkan juga penguatan ekosistem pesisir. Diana menjelaskan, pekerjaan akan diarahkan pada penataan kawasan nelayan untuk mendukung keberlangsungan hidup dan ekonomi komunitas setempat, serta penanaman mangrove sebagai langkah berbasis alam untuk memperkuat pesisir.
Pelaksanaan proyek ini akan melibatkan Kementerian PU, Pemprov DKI, serta Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ).
Selain berfungsi menahan banjir rob, Pemprov DKI juga menekankan aspek penataan visual. Pramono menyebut tanggul yang dibangun, termasuk yang telah selesai di kawasan Ancol, akan ditata agar tidak semata berupa tembok beton. Upaya tersebut ditujukan untuk memberi nilai tambah dari sisi visual dan ruang publik, sekaligus mengurangi kesan kumuh di kawasan pesisir.

