Pemerintah berencana memangkas produksi batu bara Indonesia pada 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Target ini turun sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan penyesuaian produksi dilakukan melalui revisi kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Menurutnya, langkah ini ditujukan untuk mendorong kenaikan harga batu bara sekaligus menjaga cadangan untuk masa depan.
Dalam konferensi pers Capaian Kinerja Tahun 2025 Kementerian ESDM di Jakarta, Kamis (8/1/2026), Bahlil menyebut dari total batu bara yang diperdagangkan di pasar global sekitar 1,3 miliar ton, Indonesia memasok sekitar 514 juta ton. Ia menegaskan produksi akan diturunkan agar harga membaik dan cadangan tambang tetap terjaga.
Namun, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy mengingatkan bahwa pergerakan harga batu bara tidak hanya ditentukan oleh besarnya pasokan dari Indonesia. Ia mencatat ekspor batu bara Indonesia pada 2024 sekitar 550 juta ton, setara kurang lebih 44% dari total perdagangan batu bara internasional melalui jalur seaborne.
Widhy menjelaskan, pengurangan pasokan dari Indonesia memang berpotensi mendorong harga, tetapi faktor permintaan dari negara-negara pengimpor besar seperti China dan India juga sangat memengaruhi. Ia mencontohkan kondisi pada 2025 ketika impor batu bara China menurun akibat beberapa faktor, termasuk turunnya aktivitas industri domestik untuk sementara saat terjadi perang tarif China-AS serta meningkatnya produksi batu bara dalam negeri. Penurunan impor tersebut disebut berdampak pada penurunan harga batu bara secara signifikan.
Menurut Widhy, apabila pada 2026 China dan India kembali menurunkan volume impor batu bara dari pasar internasional, penurunan produksi Indonesia belum tentu akan banyak mengerek harga batu bara global. Ia menilai penurunan impor bisa dipicu oleh meningkatnya produksi domestik di negara-negara tersebut, pengurangan penggunaan batu bara sebagai sumber energi melalui peningkatan pembangkit dari sumber lain seperti energi baru terbarukan, hingga kemungkinan peralihan impor ke negara pemasok lain.
Widhy juga menyebut potensi pergeseran sumber impor ke negara produsen lain seperti Rusia, Mongolia, Australia, maupun eksportir batu bara lainnya.
Data Kementerian ESDM menunjukkan produksi batu bara 2025 sebesar 790 juta ton, turun dari 2024 yang tercatat 836 juta ton. Dari total produksi 2025, sebanyak 514 juta ton atau 65,1% dijual ke luar negeri, sementara 254 juta ton atau 32% diserap pasar domestik. Penjualan domestik mencakup kebutuhan pembangkit listrik serta sektor nonkelistrikan, seperti pabrik semen dan fasilitas pengolahan serta pemurnian (smelter) mineral.

