Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak menguat terbatas pada awal pekan, Senin, 19 Januari 2026, dengan kisaran support di level 9.000 dan resistance 9.125. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menyebut indikator MACD menunjukkan penguatan tren, namun RSI kembali menandakan IHSG berada di area overbought atau jenuh kenaikan.
Oktavianus menilai ada sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi perdagangan, terutama berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ia menyoroti rupiah yang disebut sudah mendekati level Rp 16.882 per US$, yang dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian di kalangan investor.
Selain faktor rupiah, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis keputusan suku bunga Bank Indonesia. Oktavianus memperkirakan suku bunga acuan akan tetap di level 4,75 persen, yang menurutnya berpotensi memberikan sentimen moderat bagi pasar.
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus merekomendasikan saham BBRI dan CTRA sebagai saham pilihan. Untuk BBRI, ia memprediksi pergerakan saham berada pada level support 3.700 dan resistance 4.040. Adapun CTRA diperkirakan bergerak dengan support 890 dan resistance 1.000.
Sebelumnya, IHSG kembali mencatat rekor all-time-high (ATH) dengan ditutup di level 9.057,40 pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. IHSG menguat 1,55 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 8.936,75.
Oktavianus juga mencatat IHSG dalam sepekan terakhir menguat 1,68 persen ke level 9.075 dan sempat menyentuh 9.100 pada penutupan perdagangan, disertai net inflow sebesar Rp 4 triliun di seluruh perdagangan.
Menurutnya, penguatan IHSG didorong beberapa faktor, salah satunya penguatan sektor perbankan. Ia menyoroti sektor finansial (IDXFIN) yang naik 1 persen sepanjang sesi pertama pada 15 Januari 2026, dengan pertimbangan valuasi yang dinilai menarik serta potensi dividen.
Faktor lain yang disebut ikut mendukung pasar adalah penguatan sektor tekstil seiring rencana suntikan pendanaan sebesar US$ 6 miliar yang difokuskan pada pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, dan peningkatan kapasitas ekspor tekstil.
Oktavianus menambahkan, kenaikan harga energi dan mineral turut memberi dorongan, termasuk penguatan minyak mentah ke level US$ 62 per barel, batu bara ke level US$ 110 per ton, serta emas yang mencetak rekor baru di level US$ 4.630 per troy ounce. Kenaikan harga tersebut dinilai dapat memberi sentimen positif bagi emiten terkait.
Meski demikian, ia mengingatkan pasar masih dibayangi kekhawatiran terkait potensi berlanjutnya depresiasi rupiah terhadap dolar AS, yang dapat memunculkan persepsi instabilitas di dalam negeri.

