Pasar keuangan global memulai pekan ini dalam tekanan setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran meningkatkan ketegangan di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran investor.
Di AS, kontrak berjangka saham bergerak di zona merah menjelang pembukaan perdagangan. Futures S&P 500 turun 1,1%, Nasdaq 100 melemah 1,5%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi sekitar 1,1%.
Sentimen negatif juga menjalar ke Eropa. Indeks Stoxx 600 pan-Eropa turun hampir 1,8%, dengan sektor minyak dan gas menjadi satu-satunya yang mencatat penguatan.
Di Asia, mayoritas indeks saham dibuka melemah. Namun, tekanan sebagian tertahan oleh kenaikan saham energi dan tambang emas, terutama di Australia.
Minyak melonjak, perhatian tertuju Selat Hormuz
Lonjakan harga energi menjadi sorotan utama. Minyak mentah AS naik sekitar 7,2% ke USD 71,84 per barel, sementara Brent melonjak 7,8% ke USD 78,63. Pasar kini menaruh perhatian pada Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Meski belum dinyatakan resmi ditutup, lalu lintas tanker dilaporkan melambat tajam akibat kenaikan premi asuransi risiko perang dan adanya penangguhan pengiriman.
JPMorgan memperingatkan, jika gangguan berlangsung lebih dari tiga pekan, produsen di kawasan Teluk berisiko kehabisan kapasitas penyimpanan dan terpaksa memangkas produksi. Kondisi itu berpotensi mendorong Brent ke kisaran USD 100–120 per barel.
Saham energi dan pertahanan menguat, maskapai terpukul
Kenaikan harga minyak turut mengangkat saham energi. Di AS, Chevron dan Exxon Mobil masing-masing naik 3,5% dan 4,4% pada perdagangan pra-pembukaan.
Di Asia, Woodside Energy dan Santos di Australia melesat lebih dari 6%. Inpex dan Japan Petroleum di Jepang melonjak hingga hampir 12%. Di Eropa, BP, Shell, dan TotalEnergies juga tercatat menguat signifikan.
Di sisi lain, saham maskapai menjadi yang paling tertekan. Lebih dari 50% penerbangan global menuju Timur Tengah dilaporkan dibatalkan. Sejumlah emiten maskapai, termasuk International Consolidated Airlines, TUI, Qantas, ANA, Japan Airlines, Singapore Airlines, hingga Eva Air, mencatat penurunan tajam.
Sementara itu, saham sektor pertahanan justru menguat. Lockheed Martin dan Northrop Grumman naik sekitar 5%. Di Eropa, BAE Systems dan Leonardo juga membukukan kenaikan.
Analis Franklin Templeton menilai sektor energi, pelayaran, asuransi, dan pertahanan berpotensi unggul dalam jangka pendek, sedangkan saham maskapai dinilai lebih berisiko.
Emas menguat, dolar naik, yen melemah
Emas sebagai aset lindung nilai melonjak hampir 2,5% ke USD 5.409,69, sementara kontrak berjangka emas naik 3,1%. Saham tambang emas di Australia juga naik lebih dari 4%.
Dalam situasi ini, disebutkan terlihat pergeseran taktis ke logam mulia, terutama ketika pasar dihadapkan pada tekanan geopolitik dan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang.
Bitcoin sempat memangkas kerugian dan naik 1,4% ke USD 66.236, namun masih jauh dari puncaknya pada Oktober yang berada di sekitar USD 126.000.
Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menguat 0,65% dan franc Swiss naik tipis. Namun, yen Jepang yang biasanya menjadi aset aman di Asia justru melemah 0,56% terhadap dolar.

