BERITA TERKINI
Pasar Domestik Soroti Sikap BI, IHSG Melemah dan Rupiah Jadi Perhatian

Pasar Domestik Soroti Sikap BI, IHSG Melemah dan Rupiah Jadi Perhatian

Pasar domestik pekan ini menaruh perhatian pada keputusan bank sentral yang mempertahankan suku bunga, sesuai ekspektasi. Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar serta transmisi kebijakan suku bunga rendah.

Berdasarkan riset Ashmore Asset Management Indonesia yang ditulis Minggu (25/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke posisi 8.951. Dalam periode yang sama, investor asing tercatat melepas saham senilai USD 237 juta atau sekitar Rp 3,98 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.800.

Ashmore menilai bank sentral melihat peningkatan risiko geopolitik dan memperkuat upaya perlindungan terhadap rupiah. Nilai tukar rupiah disebut menguat ke sekitar 16.820 pada penutupan, dibandingkan level terlemahnya yang sempat berada di atas 16.980 pada pekan ini.

Di sisi kebijakan moneter, Ashmore menyebut konsensus pasar terkait pemangkasan suku bunga tahun ini masih kuat, dengan perkiraan pemotongan total 50 basis poin (bps) hingga akhir tahun.

Di pasar saham, koreksi juga terjadi seiring pergerakan sejumlah saham komoditas serta spekulasi dan posisi defensif terkait potensi penyesuaian metodologi MSCI. Pasar disebut menantikan kejelasan pada pekan berikutnya. Meski demikian, Ashmore menilai masih ada peluang menarik di saham dan obligasi di tengah imbal hasil yang terkoreksi.

Sementara itu, di pasar global, faktor geopolitik menjadi penggerak utama, terutama terkait Greenland dan Iran. Volatilitas pasar juga dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai ancaman tarif tambahan, di luar usulan Dewan Perdamaian yang disampaikan di Davos.

Ashmore mencatat dampak langsung terhadap pasar global terlihat pada volatilitas harga komoditas seperti minyak mentah dan emas. Harga emas disebut terus mencetak rekor tertinggi baru.

Menjelang pekan depan, Ashmore memperkirakan pertemuan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga. Adapun pasar prediksi memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga satu kali pada Juli.

Di Timur Tengah, konflik dinilai bukan isu baru, namun perhatian meningkat setelah muncul pengumuman Dewan Perdamaian yang melibatkan gencatan senjata di Gaza. Meski ada dugaan de-eskalasi, konflik disebut masih berlanjut sehingga tingkat risiko tetap tinggi dan harga minyak tetap bergejolak.

Usulan Dewan Perdamaian diposisikan sebagai badan internasional yang dapat mengawasi transisi Gaza pascaperang, dengan target gencatan senjata permanen dan rekonstruksi skala besar. Indonesia termasuk di antara negara yang menyatakan berpartisipasi dalam inisiatif tersebut. Namun, Ashmore menilai pembentukan Dewan Perdamaian yang baru masih rapuh sampai ada kepastian dan dampak nyata.

Meski demikian, pasar disebut memandang perkembangan ini sebagai sinyal positif yang membantu menekan harga minyak karena persepsi risiko yang lebih rendah.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga muncul setelah Trump menyatakan minat pada Greenland dengan alasan kepentingan nasional AS. Pernyataan tersebut memicu penolakan signifikan dari sekutu Eropa, sementara Trump kembali mengancam tarif yang kali ini digunakan sebagai alat geopolitik, bukan semata kebijakan perdagangan.

Menurut Ashmore, diplomasi dengan NATO membantu meredakan ancaman tarif, seiring adanya diskusi mengenai kerangka kerja terkait wilayah Arktik. Situasi ini disebut membuat tarif dicabut dan memunculkan kembali istilah “TACO”, yang turut meningkatkan selera risiko. Namun, Ashmore menilai inti dari isu Greenland berkaitan dengan upaya AS mengamankan mineral langka penting dari wilayah tersebut.

Pasar global masih mencermati perkembangan lanjutan. Ashmore menilai ketegangan geopolitik tetap tinggi, sementara aset safe haven seperti emas terus diburu, mendorong harga lebih tinggi di tengah menurunnya kepercayaan terhadap dolar AS.