BERITA TERKINI
Pasar Domestik Masih Berfluktuasi Jelang 25–27 Maret 2026, IHSG dan Rupiah Berpeluang Rebound Saat Sentimen Perang Mereda

Pasar Domestik Masih Berfluktuasi Jelang 25–27 Maret 2026, IHSG dan Rupiah Berpeluang Rebound Saat Sentimen Perang Mereda

Pasar keuangan domestik pada sepekan terakhir sebelum libur panjang masih berada dalam tekanan, dipengaruhi berlanjutnya konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga minyak mentah dunia serta meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Di tengah situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya, sementara data utang luar negeri menunjukkan pertumbuhan yang melambat tipis.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan pada pekan keempat, sempat menyentuh posisi terendah delapan bulan sebelum bangkit pada hari perdagangan terakhir. Secara mingguan, IHSG dalam dua hari perdagangan ditutup melemah 0,43% atau turun 30,373 poin ke level 7.106,839. Pelemahan terjadi seiring sentimen negatif bursa global dan regional di tengah konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi.

Memasuki pekan berikutnya, 25–27 Maret 2026—pekan perdagangan yang lebih pendek setelah libur panjang Nyepi dan Lebaran—pergerakan IHSG diperkirakan masih cenderung negatif akibat tekanan jual di kawasan. Namun, peluang rebound tetap terbuka seiring adanya partial rebound di pasar Asia yang dikaitkan dengan meredanya konflik. Dalam proyeksi teknikal mingguan, IHSG disebut berada pada area resistance 7.765 hingga 8.098. Adapun level support berada di 6.907, dan jika tertekan lebih dalam berpotensi menuju 6.838.

Di pasar valuta asing, rupiah terhadap dolar AS pada pekan lalu berakhir melemah dan mencapai rekor terendah sepanjang masa. Rupiah turun 40 poin atau 0,24% secara mingguan ke level Rp16.980 per dolar AS. Pelemahan terjadi meski dolar global sempat terkoreksi dari penguatan sebelumnya dan BI mempertahankan BI-Rate di 4,75%.

Dolar AS global tercatat bergerak melemah dari reli sebelumnya hingga mendekati level terendah sekitar dua minggu, didorong oleh penundaan serangan ke infrastruktur energi Iran di tengah negosiasi serta berkurangnya permintaan dolar sebagai aset aman. Untuk pekan mendatang, kurs USD/IDR diperkirakan masih dalam tren naik namun berpotensi cepat tertahan, atau rupiah cenderung terkoreksi lalu segera rebound. Rentang resistance diperkirakan berada di Rp17.020 hingga Rp17.100, dengan support di Rp16.856 dan Rp16.753.

Dari pasar obligasi, harga obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun terpantau turun secara mingguan, tercermin dari kenaikan yield yang berakhir di level 6,847% pada akhir pekan ketiga. Pada saat yang sama, yield US Treasury juga terpantau meningkat pada minggu ketiga.

Dalam kebijakan moneter, Rapat Dewan Gubernur BI pada 16–17 Maret 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate 4,75%, suku bunga Deposit Facility 3,75%, dan Lending Facility 5,50%. BI menyatakan keputusan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026–2027 dalam sasaran 2,5±1%.

BI menilai perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Lonjakan harga minyak dunia dinilai berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara, menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia, dan meningkatkan tekanan inflasi global.

Di sisi domestik, BI menyampaikan momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga. Untuk itu, BI menekankan penguatan sinergi kebijakan pemerintah, bank sentral, dan pemangku kepentingan lain guna menjaga permintaan domestik dan mendukung pertumbuhan ekonomi dalam kisaran 4,9–5,7%.

BI juga melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Januari 2026 tetap terjaga. ULN tercatat sebesar 434,7 miliar dolar AS atau tumbuh 1,7% secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 sebesar 1,8% (yoy). BI menyebut perkembangan tersebut terutama dipengaruhi ULN sektor publik.

Untuk agenda data ekonomi, pasar mencermati rilis jumlah uang beredar yang dijadwalkan pada Jumat pekan berikutnya. Secara umum, sentimen global masih akan berfokus pada perkembangan konflik Timur Tengah, potensi de-eskalasi, volatilitas harga minyak, serta sikap hawkish bank sentral global yang dapat memengaruhi arah pasar.