Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menilai demutualisasi bursa telah menunjukkan manfaat yang nyata dan berulang dalam memperkuat pasar modal, berdasarkan pengalaman internasional. Ia menekankan bahwa demutualisasi bukan konsep baru dalam industri pasar modal global karena telah diterapkan di berbagai negara sejak puluhan tahun lalu.
Berbicara dalam Indonesia Economic Summit, Rabu (4/2/2026), Pandu menyebut Bursa Efek Australia melakukan demutualisasi pada 1998, sementara National Stock Exchange (NSE) telah melakukannya lebih awal pada 1992. Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan demutualisasi sudah diterapkan lebih dari 25 tahun lalu dan bukan bersifat eksperimen.
“Banyak dari hal ini sudah dilakukan sejak lama. Ini bukan rahasia, tinggal apakah kita ingin melakukannya atau tidak,” kata Pandu.
Saat ditanya mengenai efektivitas demutualisasi, Pandu menyatakan jawabannya dapat dilihat dari rekam jejak dan berbagai studi kasus yang tersedia secara terbuka. Ia menyimpulkan bursa yang melakukan demutualisasi cenderung tumbuh lebih besar dan lebih kuat seiring waktu.
“Satu hal yang sangat nyata, perusahaan menjadi lebih besar, lebih dalam, dan lebih kuat seiring waktu setelah melakukan demutualisasi,” ujarnya.
Berdasarkan pandangan tersebut, Pandu mengatakan Danantara menjadi pendukung kuat demutualisasi bursa efek di Indonesia. Ia menyebut isu ini kini menjadi topik yang relevan dalam pengembangan pasar modal nasional.
Pandu juga menilai pasar saham merupakan sarana tercepat, terutama bagi investor asing, untuk mengekspresikan kepercayaan terhadap suatu negara. Menurutnya, likuiditas pasar saham memungkinkan aliran investasi masuk lebih cepat dan transparan.
“Menurut saya, pasar saham adalah cara tercepat, terutama bagi mitra asing, untuk mengekspresikan kepercayaan dan berinvestasi di negara kita, karena ini cara paling likuid untuk menunjukkan keyakinan tersebut,” pungkasnya.

