BERITA TERKINI
Pakar MUI Tekankan Pengelolaan Keuangan Syariah untuk Kesejahteraan Keluarga ASN

Pakar MUI Tekankan Pengelolaan Keuangan Syariah untuk Kesejahteraan Keluarga ASN

Isu keuangan keluarga Aparatur Sipil Negara (ASN) kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan ekonomi nasional. Kondisi finansial keluarga ASN dinilai berpengaruh terhadap stabilitas kinerja birokrasi dan kualitas pelayanan publik, seiring tuntutan profesionalisme dan integritas yang melekat pada profesi tersebut.

Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. Setiawan Budi Utomo, menegaskan bahwa kesejahteraan keluarga ASN tidak dapat diukur semata-mata dari besaran pendapatan. Menurutnya, aspek yang lebih menentukan adalah cara mengelola keuangan secara bijak, beretika, dan berkelanjutan.

“Kinerja ASN tidak bisa dilepaskan dari ketenangan batin dan ketahanan ekonomi keluarga. Jika keluarga berada dalam tekanan finansial, maka fokus dan integritas dalam bekerja bisa terdampak,” kata Setiawan saat menjadi narasumber webinar ASN Belajar yang digelar secara daring, Kamis, 26 Februari 2026.

Ia menilai stabilitas negara tidak hanya ditopang oleh regulasi dan sistem birokrasi, tetapi juga oleh stabilitas pribadi dan keluarga para ASN. Setiawan menyebut ASN sebagai tulang punggung pelayanan negara, sehingga kerentanan ekonomi keluarga berpotensi memicu tekanan psikologis hingga meningkatkan risiko perilaku tidak etis. “Karena itu, penguatan ekonomi keluarga ASN adalah bagian dari penguatan negara,” ujarnya.

Setiawan juga menyoroti tantangan keuangan yang dihadapi ASN dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan biaya hidup, inflasi kebutuhan pokok, serta meningkatnya biaya pendidikan dan kesehatan menjadi tekanan yang nyata. Di sisi lain, tekanan sosial dan gaya hidup modern turut memengaruhi pola konsumsi keluarga ASN.

Menurutnya, sebagian keluarga ASN terjebak dalam pengeluaran konsumtif untuk menjaga citra sosial, sementara kebutuhan jangka panjang seperti dana pensiun dan investasi pendidikan anak kurang dipersiapkan. Ia mengingatkan bahwa tanpa manajemen keuangan yang sistematis, ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran dapat semakin besar. “Banyak keluarga ASN sebenarnya memiliki pendapatan tetap yang relatif stabil. Namun tanpa perencanaan, pengendalian, dan prinsip kehati-hatian, stabilitas itu bisa berubah menjadi kerentanan,” katanya.

Dalam konteks membangun kesejahteraan berkelanjutan, Setiawan menekankan pentingnya pendekatan keuangan berbasis nilai-nilai syariah. Ia menyebut prinsip syariah menekankan keseimbangan antara konsumsi dan investasi, antara kebutuhan dunia dan persiapan akhirat, serta antara hak pribadi dan tanggung jawab sosial.

Ia menjelaskan, manajemen keuangan keluarga berbasis syariah mencakup penetapan tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang; pengaturan pengeluaran sesuai prioritas kebutuhan; menghindari riba, gharar, dan spekulasi berlebihan; serta membiasakan zakat dan sedekah sebagai instrumen pembersih harta sekaligus penguat solidaritas sosial.

“Keuangan syariah bukan hanya soal halal dan haram, tetapi soal keberkahan dan keberlanjutan. Ia membangun ketahanan ekonomi sekaligus ketenangan jiwa,” ujar Setiawan.

Ia menambahkan, kesejahteraan berkelanjutan bagi keluarga ASN setidaknya mencakup empat aspek utama. Pertama, kebutuhan pokok terpenuhi secara layak tanpa bergantung pada utang konsumtif. Kedua, terbebas dari tekanan finansial berlebihan sehingga dapat bekerja dengan fokus dan integritas. Ketiga, adanya perencanaan dana pendidikan, kesehatan, dan pensiun yang matang. Keempat, minimnya konflik rumah tangga akibat persoalan ekonomi, disertai komunikasi terbuka dalam pengelolaan keuangan.

Setiawan menegaskan, kesejahteraan yang sejati bukanlah kemewahan, melainkan keseimbangan antara kemampuan memenuhi kebutuhan hari ini dan kesiapan menghadapi hari esok.