BERITA TERKINI
Pakar Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta Imbau Warga Tak Panic Buying di Tengah Konflik AS-Iran

Pakar Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta Imbau Warga Tak Panic Buying di Tengah Konflik AS-Iran

Guru Besar Ilmu Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Didit Welly Udjianto, M.S., mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying di tengah berlanjutnya konflik militer AS-Iran. Ia menilai pembelian barang secara berlebihan justru dapat memicu kelangkaan dan mendorong kenaikan harga.

“Panic buying justru akan menimbulkan kelangkaan barang-barang dan meningkatkan harga jadi lebih tajam,” kata Didit saat ditemui di Kampus UPN Veteran Yogyakarta.

Didit menyarankan langkah jangka pendek yang lebih terukur, yakni menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) alih-alih memborong barang karena kekhawatiran situasi memburuk.

Senada, Dosen Ekonomi Pembangunan UPN Veteran Yogyakarta, Dr. Sultan, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa panic buying dapat memicu inflasi psikologis. Menurutnya, perilaku kelompok ketika konsumen membeli suatu produk dalam jumlah besar—biasanya untuk mengantisipasi bencana—membuat ketersediaan barang menipis dan harga meningkat.

Sultan menambahkan, konflik militer AS-Iran turut menciptakan ketidakpastian ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga minyak dunia. Ia menyebut harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level 100 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026) setelah penutupan Selat Hormuz, jalur transit lebih dari 20% minyak dunia.

Kenaikan harga minyak dunia, lanjut Sultan, berpotensi menambah beban subsidi energi pada APBN. Ia juga memaparkan bahwa sekitar 25% impor minyak mentah dan 30% LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah, sehingga konflik di kawasan tersebut dapat langsung memengaruhi biaya energi Indonesia.

Dalam Asumsi Dasar Ekonomi Makro pada APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dipatok 70 dolar AS per barel. Sementara itu, per Februari 2026, ICP tercatat naik menjadi 68,79 dolar AS per barel seiring kondisi geopolitik global yang mengganggu pasokan dan berdampak pada harga minyak dunia.