Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah berbagai dinamika ekonomi global yang perlu diwaspadai. Kesimpulan tersebut menjadi salah satu hasil utama Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK yang digelar pada 29 Oktober 2025.
Dalam rapat itu, OJK menyoroti perkembangan terbaru ekonomi dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2025 merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global, seiring tercapainya kesepakatan perdagangan internasional dan kebijakan moneter yang lebih longgar di sejumlah negara utama.
Meski demikian, tekanan terhadap perekonomian Amerika Serikat disebut masih terasa. OJK mencatat pasar tenaga kerja mulai melemah, government shutdown yang berkepanjangan, serta sejumlah kasus default korporasi yang menjadi perhatian pasar.
Di Tiongkok, beberapa indikator utama permintaan masih berada di bawah ekspektasi pasar. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2025 dilaporkan melambat akibat konsumsi rumah tangga yang tertahan, penjualan ritel yang melemah, dan perlambatan sektor properti.
Sementara itu, kawasan Eropa menunjukkan aktivitas ekonomi yang cenderung stagnan. Risiko juga meningkat seiring gejolak politik di Prancis dan penurunan peringkat utang negara tersebut.
Berbeda dengan tren global, ekonomi Indonesia dinilai tetap menunjukkan daya tahan. Data triwulan III mencatat pertumbuhan sebesar 5,04 persen (year-on-year), dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan kinerja perekonomian nasional masih solid, meski permintaan domestik dinilai tetap perlu mendapat dukungan lebih lanjut. “Hal ini sejalan dengan moderasi inflasi inti, serta perkembangan indeks kepercayaan konsumen dan penjualan ritel, semen, maupun kendaraan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (7/11).