Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan memperkuat sektor jasa keuangan nasional secara komprehensif dan tidak hanya berfokus pada segmen tertentu. Harapan itu disampaikan konsultan dan perencana keuangan Elvi Diana, yang menilai perhatian OJK belakangan lebih banyak tertuju pada stabilitas pasar modal seiring dinamika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut Elvi, mandat OJK pada dasarnya lebih luas daripada sekadar menjaga stabilitas pasar modal. Ia menekankan pentingnya perhatian yang lebih besar pada sektor perbankan yang dinilai menjadi tulang punggung pembiayaan ekonomi nasional.
“Stabilitas kredit, kualitas pembiayaan, hingga penyaluran kredit produktif perlu diawasi secara ketat agar mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujarnya.
Selain perbankan, Elvi menilai sektor asuransi juga memerlukan penguatan, terutama dalam aspek tata kelola dan perlindungan konsumen. Ia mengingatkan peran asuransi krusial dalam mitigasi risiko bagi masyarakat dan dunia usaha, sehingga kelemahan tata kelola dapat berdampak luas. “Jika tata kelolanya lemah, dampaknya bisa sistemik,” katanya.
Elvi juga menyoroti perlunya memperkuat fungsi edukasi dan perlindungan konsumen di tengah pesatnya perkembangan industri jasa keuangan, termasuk digitalisasi layanan, teknologi finansial, serta inovasi produk yang semakin kompleks. Ia menilai pertumbuhan sektor keuangan yang tinggi perlu diimbangi peningkatan literasi keuangan agar masyarakat tidak sekadar menjadi objek pasar, melainkan subjek yang memahami hak dan kewajiban.
OJK sebelumnya melaporkan sektor jasa keuangan tumbuh 7,92 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal IV-2025. Elvi menilai pengawasan yang menyeluruh akan memperkuat fondasi sistem keuangan nasional.
“Jadi, OJK harus memperkuat pengawasan perbankan, kredit, asuransi, serta inovasi teknologi keuangan secara seimbang. Dengan begitu, stabilitas sistem keuangan nasional dapat terjaga secara berkelanjutan,” tuturnya.

