Pasar obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGB) mengalami tekanan jual pada awal pekan ini. Aksi jual tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) di berbagai tenor, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal Jepang.
Salah satu pemicu utama adalah menguatnya pembahasan usulan pemangkasan pajak, termasuk pemotongan pajak penjualan makanan dan wacana pemangkasan pajak konsumsi. Pasar menilai langkah tersebut berpotensi menekan penerimaan negara dan memperlebar defisit, sehingga memperburuk kesehatan fiskal Jepang.
Data Refinitiv menunjukkan yield JGB acuan tenor 10 tahun pada Senin (19/1/2026) ditutup di level 2,274%, tertinggi sejak Februari 1999 atau sekitar 27 tahun. Tekanan jual berlanjut pada Selasa pagi. Per pukul 10.20 WIB, yield JGB tenor 10 tahun terpantau naik lagi ke 2,325%.
Yield obligasi bergerak berlawanan arah dengan harga. Karena itu, kenaikan yield mencerminkan turunnya harga obligasi akibat tekanan jual yang lebih besar dibandingkan minat beli di pasar.
Kekhawatiran investor juga dipengaruhi dinamika politik. Sejumlah anggota parlemen dari partai berkuasa maupun oposisi menyinggung kemungkinan pemangkasan pajak konsumsi menjelang pemilu umum dadakan yang diperkirakan digelar awal bulan depan. Tekanan pasar semakin menguat setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan rencana membubarkan parlemen pada Jumat (23/1/2026) dan menggelar pemilu dadakan pada 8 Februari.
Di sisi lain, yield JGB tenor sangat panjang juga mencetak rekor. Pada Selasa (20/1/2026), yield obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun menembus 4% setelah naik lebih dari lima basis poin. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak tenor 40 tahun pertama kali diterbitkan pada November 2007, ketika Kementerian Keuangan Jepang melelang obligasi 40 tahun untuk pertama kalinya pada 6 November 2007.
Masahiko Loo, senior fixed income strategist di State Street Investment Management, menilai kenaikan yield JGB tenor sangat panjang tidak hanya dipicu ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan, tetapi juga karena pasar menyesuaikan ulang premi tenor dan premi risiko. Menurutnya, penyesuaian ini terjadi saat pelaku pasar menyerap sinyal kebijakan fiskal yang lebih ekspansif, ditambah tekanan inflasi yang masih bertahan.
Loo juga menyebut kondisi tersebut kembali memunculkan pola yang dikenal sebagai “Takaichi trade”, yakni Nikkei cenderung menguat, obligasi pemerintah Jepang melemah, dan yen melemah. Ia menilai volatilitas kali ini mirip dengan pergerakan pada Oktober tahun lalu, ketika pasar bereaksi terhadap komentar dan sinyal kebijakan dari Takaichi yang mengarah pada kebijakan fiskal lebih longgar sebelum akhirnya mereda. Menurutnya, pergerakan saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan sentimen pasar, bukan tanda adanya masalah struktural yang lebih dalam.
Ke depan, Loo memperkirakan kurva yield masih akan tetap curam pada paruh pertama tahun ini, lalu berangsur stabil seiring penyesuaian pola penerbitan obligasi dan kembalinya bank-bank domestik sebagai pembeli. Sejalan dengan itu, analis Crédit Agricole Corporate and Investment Bank menilai pasar semakin memperhitungkan pergeseran yang bertahan ke arah kebijakan fiskal agresif di bawah Takaichi. Kebijakan tersebut, yang bertujuan menjauh dari apa yang disebut Takaichi sebagai “belenggu penghematan berlebihan”, dinilai berpotensi berujung pada defisit yang lebih besar.
Sementara itu, di Indonesia, data Refinitiv menunjukkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 5, 10, dan 30 tahun cenderung naik dalam sebulan terakhir, terutama pada tenor pendek dan menengah.
Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), yield SBN tenor 10 tahun bergerak naik dari 6,126% pada 19 Desember 2025 menjadi 6,331% per pukul 10.30 WIB. Yield sempat turun ke 6,088% di awal Januari, namun kemudian kembali naik dan bertahan di atas 6,2%.
Yield SBN tenor 5 tahun juga meningkat dari 5,6% pada 19 Desember 2025 menjadi 5,762% pada perdagangan hari ini. Setelah sempat turun ke kisaran 5,49 pada 9 Januari, yield tenor 5 tahun berbalik naik dan dalam beberapa hari terakhir bergerak lebih tinggi.
Adapun yield SBN tenor 30 tahun relatif lebih stabil dibandingkan dua tenor lainnya. Yield turun tipis dari 6,742% pada 19 Desember 2025 menjadi 6,701% pada perdagangan hari ini. Meski demikian, pergerakannya tetap berfluktuasi karena sempat berada di 6,756% pada 9 Januari sebelum kembali turun ke kisaran 6,67%–6,70%.

