BERITA TERKINI
NZD/USD Tertahan di Bawah 0,5780 Meski Didorong Data Tiongkok dan Pelemahan Dolar AS

NZD/USD Tertahan di Bawah 0,5780 Meski Didorong Data Tiongkok dan Pelemahan Dolar AS

Pasangan mata uang NZD/USD menghentikan penguatannya di bawah area 0,5780 setelah sebelumnya memantul dari level terendah sesi di sekitar 0,5730. Pergerakan ini membuat Dolar Selandia Baru (dolar Kiwi) kembali terjebak dalam kisaran perdagangan yang telah bertahan selama beberapa pekan terakhir.

Penguatan Kiwi didukung oleh rilis data makroekonomi Tiongkok yang dinilai lebih baik dari perkiraan, serta kondisi Dolar AS yang melemah. Tiongkok merupakan mitra dagang utama Selandia Baru, sehingga data ekonomi dari negara tersebut kerap memengaruhi sentimen terhadap mata uang Kiwi.

Data yang dirilis pada Senin menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok melambat menjadi 4,5% secara tahunan, turun dari 4,8% pada kuartal sebelumnya. Meski melambat, angka tersebut masih berada di atas perkiraan analis pasar sebesar 4,4%. Data ini dipandang mencerminkan upaya pertumbuhan yang tetap sejalan dengan target pemerintah sekitar 5%, di tengah lonjakan ekspor yang membantu mengimbangi lemahnya permintaan domestik.

Sejumlah indikator Desember juga memberi gambaran yang beragam. Produksi industri naik 0,5% dibanding November dan tumbuh 5,2% secara tahunan, yang disebut sebagai laju tertinggi dalam tiga bulan. Sementara itu, penjualan ritel melambat menjadi 0,9% dari 1,3% pada bulan sebelumnya. Di sektor properti, harga perumahan mempercepat penurunan, menyusut 2,7% dibanding -2,4% pada November, mencerminkan konsumsi yang masih lesu dan kondisi pasar properti yang lemah.

Di sisi lain, Dolar AS berada dalam tekanan yang lebih luas setelah munculnya ancaman tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa. Trump mengisyaratkan tarif tambahan sebesar 10% pada delapan negara anggota Uni Eropa, menyusul penolakan mereka terhadap rencananya untuk mencaplok Greenland. Pernyataan tersebut kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap dampak kebijakan perdagangan yang dinilai tidak menentu.