Bursa saham Jepang menguat tajam pada awal pekan, dengan indeks utama mencetak rekor tertinggi baru. Penguatan saham terjadi di tengah pelemahan yen serta penurunan harga obligasi pemerintah, setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilu sela pada Minggu (8/2/2026).
Pada Senin (9/2/2026), indeks Nikkei 225 naik 2,6% menjadi 55.681,11, level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, tak lama setelah perdagangan dibuka. Indeks Topix yang lebih luas juga menguat 2,4% ke rekor 3.789,10.
Di pasar obligasi, kontrak berjangka obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun 0,37 yen menjadi 131,22 yen. Sementara itu, obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 30 tahun menjadi satu-satunya obligasi tunai yang diperdagangkan hingga pukul 00.05 GMT, dengan imbal hasil naik 6,5 basis poin menjadi 3,615%. Kenaikan imbal hasil mencerminkan turunnya harga obligasi.
Nilai tukar yen melemah hingga 0,3% ke 203,30 per franc Swiss, menandai level terendah sepanjang masa terhadap mata uang tersebut. Yen juga turun 0,4% menjadi 186,55 per euro, mendekati rekor terendah 186,86 yang terjadi bulan lalu. Terhadap dolar AS, yen melemah 0,5% hingga sempat menyentuh 157,95, terendah dalam dua pekan.
Kemenangan Takaichi dinilai membuka jalan bagi agenda pengurangan pajak dan belanja fiskal besar-besaran. Kebijakan tersebut disebut telah memicu kekhawatiran pasar sejak ia berkuasa tahun lalu, menekan yen dan mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi sepanjang masa, sekaligus memicu reli berkelanjutan di pasar saham.
Mahjabeen Zaman, kepala strategi FX di ANZ Bank, mengatakan kemenangan tersebut berpotensi memperlancar kebijakan pro-stimulus Takaichi karena ia dapat bergerak maju tanpa perlu bernegosiasi dengan pihak lain pada setiap isu. Zaman menambahkan, pihaknya memperkirakan yen akan melemah ke depan.
Ia juga menyatakan, imbal hasil JGB diperkirakan meningkat, sejalan dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi serta dampak dari agenda fiskal tersebut.

