Pengusaha nasional sekaligus pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada usia 86 tahun. Ia dikenal sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan industri rokok dan perbankan di Indonesia, serta aktif berkontribusi di bidang olahraga.
Kabar wafatnya dikonfirmasi manajemen Grup Djarum pada Kamis (19/3) pukul 13.15 waktu Singapura. Corporate Communication Senior Manager Grup Djarum Budi Darmawan menyampaikan duka cita atas kepergian pimpinan perusahaan tersebut.
Michael Bambang Hartono lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Oktober 1939. Ia merupakan putra Oei Wie Gwan, pendiri PT Djarum. Setelah ayahnya meninggal pada 1963, Michael melanjutkan usaha keluarga bersama adiknya, Robert Budi Hartono, yang kemudian dikenal sebagai pimpinan dan pemilik perusahaan rokok tersebut.
Dalam perjalanan bisnisnya, Djarum sempat menghadapi tantangan, termasuk peristiwa kebakaran yang berdampak pada operasional perusahaan. Namun, perusahaan kemudian berhasil bangkit di bawah kepemimpinan Hartono bersaudara dan berkembang menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, dengan jangkauan pasar hingga mancanegara.
Ekspansi usaha dilakukan dengan memperluas bisnis ke berbagai sektor di luar industri tembakau. Grup Djarum mengembangkan usaha di bidang elektronik melalui Polytron sekitar tahun 1970, serta merambah sektor properti, perkebunan, dan infrastruktur.
Langkah strategis lainnya ditempuh melalui ekspansi ke sektor keuangan, antara lain dengan kepemilikan saham di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) setelah krisis ekonomi 1997–1998. BCA kemudian tumbuh menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia dengan basis nasabah yang luas. Kepemilikan di sektor perbankan dan industri rokok disebut menjadi sumber utama kekayaan Hartono bersaudara, yang berkali-kali masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia berdasarkan berbagai pemeringkatan global.
Michael juga tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada Maret 2018, dengan kekayaan sekitar 16,7 miliar dolar AS atau setara Rp225 triliun pada saat itu. Portofolio usaha yang dibangun turut menempatkan Djarum sebagai salah satu konglomerasi besar dengan bisnis di sejumlah sektor strategis.
Di luar bisnis, Michael dikenal sebagai atlet nasional cabang olahraga bridge. Pada Asian Games 2018, ia tercatat sebagai salah satu atlet paling senior dalam kontingen Indonesia pada usia 78 tahun, dan turut menyumbangkan medali perunggu bersama tim bridge nasional. Bonus yang diterimanya dari pemerintah atas prestasi tersebut disalurkan kembali untuk pembinaan olahraga bridge di Indonesia.
Bersama Robert Budi Hartono, Michael juga berperan dalam pengembangan Perkumpulan Bulu Tangkis Djarum (PB Djarum) sebagai salah satu pusat pembinaan bulu tangkis nasional. Dari pembinaan tersebut lahir sejumlah atlet yang kemudian menjadi bagian penting kekuatan Indonesia di panggung dunia.
Sepanjang kiprahnya, Michael Bambang Hartono dikenal sebagai pengusaha sekaligus pegiat olahraga yang berperan dalam membangun dan mengembangkan usaha di bidang ekonomi, serta mendukung pembinaan olahraga nasional di Indonesia.