Kabar duka datang dari dunia usaha Indonesia. Pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, meninggal dunia pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 13.15 waktu Singapura.
Corporate Communication Senior Manager Grup Djarum, Budi Darmawan, menyampaikan duka cita atas kepergian Bambang Hartono. “Keluarga Besar PT Djarum berduka cita mendalam atas wafatnya Pimpinan Kami, Pak Michael Bambang Hartono, Kamis 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura,” ujarnya.
Wafatnya Bambang Hartono tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan dunia usaha, tetapi juga bagi dunia olahraga Indonesia. Di balik kiprahnya sebagai pebisnis, ia dikenal memiliki ketertarikan besar pada olahraga bridge dan tetap aktif hingga usia lanjut.
Pada usia 78 tahun, ia masih turun langsung membela Indonesia di Asian Games 2018. Ia juga tercatat sebagai salah satu atlet tertua dalam ajang tersebut dan menilai bridge sebagai olahraga yang tidak dibatasi usia.
“Bridge itu permainan yang tidak menentukan usia. Sejak umur 5 tahun sampai tua pun seseorang tetap bisa bermain bridge. Bukan game yang dibatasi oleh usia seperti atletik,” ujarnya pada 2018.
Bambang Hartono mengatakan ia telah mengenal bridge sejak sangat muda. “Saya mulai main ini sejak usia sangat muda, 5 atau 6 tahun,” tuturnya.
Menurutnya, bridge bukan sekadar permainan, melainkan juga sarana melatih pengambilan keputusan, serupa dengan yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. “Orang-orang besar itu ikut main bridge, seperti Bill Gates. Jadi, bridge itu decision making process seperti yang dilakukan para pebisnis,” katanya.
Selain dikenal sebagai pemain, Bambang Hartono juga disebut berperan mendorong agar bridge dapat dipertandingkan di Asian Games. Upaya tersebut membuahkan hasil ketika bridge resmi masuk sebagai cabang olahraga dalam ajang itu.
Di Asian Games 2018, ia tampil membela Indonesia pada nomor super mixed team dan menyumbangkan medali perunggu bagi kontingen Indonesia.
Setelah meraih prestasi itu, Bambang Hartono memilih tidak mengambil bonus Rp250 juta yang menjadi haknya dari pemerintah. Bonus tersebut diserahkan kepada tim bridge Indonesia sebagai dukungan bagi pengembangan olahraga bridge di Tanah Air.
Kepergiannya menutup perjalanan seorang tokoh yang dikenal tidak hanya di dunia usaha, tetapi juga dalam olahraga bridge. Dedikasi dan kontribusinya, termasuk sikapnya dalam mendukung tim bridge Indonesia, menjadi bagian dari warisan yang dikenang.