Kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia mulai pulih seiring meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah sempat terjadi aksi jual signifikan yang memicu volatilitas, aliran dana asing dilaporkan kembali meningkat secara bertahap, didorong oleh penilaian bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan valuasi saham menjadi lebih menarik.
Para analis menilai kembalinya investor berlangsung hati-hati dan terukur, mencerminkan sikap waspada pascaperiode gejolak pasar. Investor institusional maupun ritel disebut mulai melihat peluang akumulasi pada level harga yang dinilai lebih kompetitif setelah tekanan jual sebelumnya.
Pengamat pasar mencatat beberapa faktor yang mendukung pemulihan sentimen. De-eskalasi konflik AS-Iran dinilai memberi dorongan psikologis bagi pasar global yang sebelumnya dibayangi kekhawatiran eskalasi perang lebih luas. Di sisi domestik, stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang positif turut menjadi daya tarik. Selain itu, penurunan valuasi saham akibat aksi jual sebelumnya membuka peluang masuk bagi investor berorientasi jangka panjang. Kebijakan pemerintah yang mendukung iklim investasi serta reformasi struktural juga dipandang sebagai katalis di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, analis memperkirakan momentum positif masih berpeluang berlanjut, meski pasar tetap berpotensi bergejolak dalam jangka pendek. Investor diperkirakan akan terus mencermati perkembangan geopolitik, rilis data ekonomi global, serta arah kebijakan moneter bank sentral dunia yang kerap menjadi pemicu pergerakan pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan positif, dengan catatan volatilitas masih menjadi karakteristik yang menyertai.
Dalam situasi tersebut, investor diimbau menerapkan strategi yang rasional dan tidak semata mengandalkan momentum sesaat. Dengan disiplin dan pemahaman fundamental, peluang di pasar modal Indonesia dinilai tetap terbuka.