BERITA TERKINI
Menjelang 2026, Seruan Literasi Finansial untuk Gen Z agar Tak Terjerat Pinjol dan Judol

Menjelang 2026, Seruan Literasi Finansial untuk Gen Z agar Tak Terjerat Pinjol dan Judol

Sebuah ironi kerap terlihat di kalangan anak muda: aktif berdiskusi, berorganisasi, dan lantang mengkritik ketidakadilan, tetapi di saat yang sama dihantui kecemasan menghadapi tagihan pinjaman online (pinjol) dan ancaman penagih utang. Gambaran itu digunakan penulis Izzul Khaq, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah, untuk menyoroti persoalan yang menurutnya jarang dibicarakan secara terbuka: banyak generasi muda yang tampak produktif dan berpendidikan, namun rapuh secara finansial.

Dalam tulisannya, ia menilai problem tersebut tidak semata-mata bersumber dari besaran penghasilan, melainkan dari rendahnya literasi finansial. Menjelang 2026, ia mengajak generasi muda menggeser fokus dari sekadar pencapaian akademik dan aktivitas organisasi, menuju kemampuan menjaga kemandirian ekonomi di tengah ekosistem digital yang dinilainya predatorik.

Izzul menempatkan pinjol dan judi online (judol) bukan hanya sebagai persoalan moral atau kebiasaan buruk, melainkan sebagai gejala dari lubang dalam sistem pendidikan yang dianggap tidak membekali anak muda dengan pengetahuan dasar tentang cara kerja uang dan pengelolaan keuangan. Ia menggambarkan situasi ketika kebutuhan hidup meningkat dan tuntutan gaya hidup menguat, sementara kemampuan mengelola uang tidak berkembang, sehingga “jalan pintas” seperti pinjol dan judol tampak seperti solusi.

Ia menyebut pinjol menawarkan “uang instan” yang pada akhirnya mengorbankan masa depan, sedangkan judol menjual harapan menang yang semu. Dalam konteks itu, ia mengutip Robert T. Kiyosaki dalam buku Rich Dad Poor Dad yang menekankan bahwa yang menentukan bukan seberapa besar uang dihasilkan, melainkan seberapa banyak yang disimpan dan sejauh mana uang dapat “bekerja”. Menurutnya, tanpa perubahan cara berpikir, pola “gaji datang lalu habis kemudian utang” berisiko menjadi siklus permanen.

Dampak sosialnya, tulis Izzul, mulai terasa pada anak muda yang merasa tertinggal bahkan sebelum memulai: kesulitan memenuhi standar “mapan”, pesimistis memiliki rumah, hingga hidup dalam kecemasan dari satu tanggal gajian ke tanggal berikutnya. Ia memandang kondisi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi krisis kemandirian yang menggerus rasa merdeka dalam menjalani hidup.

Karena itu, ia mendorong literasi finansial dipahami sebagai bagian dari upaya emansipasi, termasuk di lingkungan IMM dan organisasi kepemudaan lain. Ia mempertanyakan bagaimana aktivisme dan kerja-kerja sosial dapat berjalan tenang jika individu masih terikat beban utang dan tekanan tagihan. Dalam perspektif yang ia gunakan, pengelolaan harta dipandang sebagai amanah yang perlu dikelola produktif agar memberi manfaat, bukan sekadar ditumpuk.

Izzul menekankan pentingnya memahami perbedaan aset—yang menurutnya memasukkan uang—dan liabilitas—yang mengeluarkan uang—serta kemampuan menahan dorongan gaya hidup demi membangun ketahanan jangka panjang. Ia juga menyatakan investasi tidak seharusnya dipandang sebagai urusan kelompok tertentu, melainkan bagian dari “alat bertahan hidup” bagi Gen Z, terutama karena inflasi terus menggerus nilai uang.

Dalam tulisannya, ia menawarkan perubahan prioritas. Pertama, menyiapkan dana darurat sebelum mengejar gaya hidup, dengan target tabungan tiga hingga enam bulan biaya hidup. Kedua, menempatkan investasi sebelum konsumsi, seperti membeli instrumen investasi yang ia sebutkan—emas, reksa dana, atau aset produktif lain—sebelum membeli barang untuk pamer. Ketiga, mendahulukan pembangunan aset ketimbang prestise, dengan memilih portofolio keuangan yang sehat dibanding citra kemewahan yang rapuh.

Lebih jauh, ia menyebut “merdeka finansial” sebagai bentuk kedaulatan berpikir. Ia menilai organisasi intelektual tidak cukup hanya melahirkan orator, tetapi juga kader yang mandiri secara ekonomi. Karena itu, ia mendorong literasi finansial masuk dalam materi kaderisasi, menjadi tema kajian, serta menjadi gerakan edukasi yang lebih luas.

Di akhir, Izzul menegaskan bahwa pinjol dan judol adalah cermin ketidaksiapan, dan jalan keluar tidak cukup mengandalkan pelarangan melalui regulasi, melainkan membutuhkan pencerahan melalui literasi. Menurutnya, memasuki 2026, generasi muda dihadapkan pada pilihan: tetap bekerja keras tanpa arah hingga berakhir terlilit, atau mulai bekerja lebih cerdas dengan kesadaran finansial yang kuat.