Lonjakan harga minyak dunia mulai mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter global. Di tengah tekanan inflasi yang kembali menguat, pelaku pasar kini menilai peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi semakin terbatas.
Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyebut perubahan ekspektasi terjadi seiring kenaikan harga energi yang membuat inflasi global bertahan tinggi. Kondisi tersebut dinilai mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter dibandingkan proyeksi pada awal tahun.
Dalam riset yang dikutip Rabu, 18 Maret 2026, Kiwoom mencatat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed turun tajam menjadi sekitar satu kali atau bahkan kurang dari 25 basis poin sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pasar memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan sebelum konflik meningkat.
Harga minyak menjadi faktor utama di balik perubahan arah tersebut. Minyak Brent sempat melonjak mendekati USD120 per barel sebelum turun ke sekitar USD103. Level itu masih jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum konflik, ketika harga berada di kisaran USD70 per barel.
Kenaikan harga energi dipicu gangguan pasokan global, terutama pada jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi rute sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut disebut meningkatkan volatilitas pasar energi dalam dua pekan terakhir.
International Energy Agency (IEA) merespons situasi ini dengan rencana pelepasan cadangan minyak global sebesar 411,9 juta barel, yang ditujukan untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah risiko gangguan distribusi energi.
Dampak lonjakan harga energi mulai tercermin pada proyeksi ekonomi. Goldman Sachs memperkirakan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi global sekitar 0,5 hingga 0,6 poin persentase serta menurunkan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,3 persen dalam satu tahun ke depan.
Di Amerika Serikat, tekanan inflasi masih bertahan di atas target bank sentral. Data menunjukkan inflasi inti Core PCE pada Januari 2026 tercatat 3,1 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan target The Fed di level 2 persen.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan perlambatan. Produk domestik bruto pada kuartal IV 2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen, mencerminkan aktivitas ekonomi yang melambat di tengah tekanan harga.
Perubahan ekspektasi kebijakan moneter juga terlihat dari proyeksi pasar. Investor kini hanya memperkirakan peluang penurunan suku bunga sekitar satu kali hingga akhir tahun, dengan probabilitas penurunan 25 basis poin lebih banyak ditempatkan pada akhir tahun.
Di pasar obligasi, yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat di kisaran 4,27 persen. Kenaikan yield ini mencerminkan kekhawatiran bahwa suku bunga dapat bertahan lebih tinggi dalam periode yang lebih lama akibat tekanan inflasi.
Tren serupa juga terlihat di Eropa. Yield obligasi pemerintah Jerman dan Prancis dilaporkan meningkat karena investor mengantisipasi tekanan inflasi yang bertahan, dipengaruhi oleh kenaikan harga energi.
Perubahan arah kebijakan moneter turut memengaruhi aliran dana global. Investor disebut mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah.
Tekanan itu tercermin pada pasar saham. Pada penutupan perdagangan terakhir, indeks S&P 500 turun 0,6 persen ke level 6.632, Nasdaq melemah 0,9 persen ke 22.105, dan Dow Jones turun 0,3 persen ke 46.559.
Saham teknologi juga tertekan. Adobe turun 7,6 persen setelah pengumuman perubahan manajemen, sementara Meta Platforms melemah 3,8 persen setelah penundaan peluncuran model kecerdasan buatan terbarunya.
Kiwoom mencatat perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan The Fed yang berlangsung pekan ini. Investor menanti proyeksi ekonomi terbaru dan pernyataan Ketua The Fed, terutama terkait pandangan bank sentral terhadap inflasi dan arah suku bunga ke depan.
Menurut Kiwoom, fokus utama pasar bukan pada keputusan suku bunga semata, melainkan pada bagaimana The Fed membaca perkembangan inflasi serta sinyal kebijakan selanjutnya.