Literasi finansial dinilai tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga membentuk pola pikir sehat dalam mengambil keputusan keuangan. Pandangan ini disampaikan praktisi pemberdayaan ekonomi dan transformasi digital, Nurina Maskayanti.
Nurina menilai masih banyak anak muda yang memandang literasi keuangan sebagai sesuatu yang rumit dan membosankan. Padahal, menurutnya, inti literasi keuangan bersifat sederhana, yakni menyadari ke mana uang digunakan dan alasan di balik setiap pengeluaran.
Ia menyoroti kebiasaan self-reward tanpa batas sebagai salah satu penyebab utama pengeluaran tidak terkontrol di kalangan generasi muda. Nurina mengingatkan, jika dilakukan setiap selesai bekerja atau kuliah, self-reward dapat berubah dari penghargaan menjadi kebiasaan yang justru menguras keuangan.
Menurut Nurina, langkah awal membangun literasi finansial adalah melatih diri membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan transaksi. Ia juga menekankan pentingnya kesadaran dan kontrol diri di tengah kemajuan teknologi keuangan agar tidak terjebak perilaku konsumtif.
Nurina menilai transaksi digital memang memudahkan, namun dapat membuat pengeluaran terjadi tanpa terasa karena cukup dilakukan dengan sekali klik atau memindai kode. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan dalam berbelanja dan bertransaksi secara digital.
Selain pengelolaan pengeluaran, Nurina juga menekankan perlunya menjaga data pribadi dalam aktivitas keuangan digital. Menurutnya, data pribadi saat ini merupakan aset, dan kebocoran data—termasuk yang berkaitan dengan pinjaman online atau judi online—dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan.

