Fenomena pinjaman online (pinjol) dan gaya hidup berbasis fear of missing out (FOMO) dinilai menjadi ancaman serius bagi kondisi finansial anak muda, terutama di era digital. Dosen UIN Datokarama Palu, Yuni Amelia, menilai banyak anak muda belum memiliki pemahaman yang memadai dalam mengelola keuangan pribadi.
Dalam program Sore Ceria PRO 2 Palu, Selasa (27/01), Yuni mengatakan tekanan dari media sosial kerap memicu dorongan untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Ia mencontohkan situasi ketika seseorang melihat teman berganti ponsel, nongkrong, atau berlibur, lalu muncul keinginan untuk melakukan hal serupa.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak muda kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan. Dampaknya, keputusan finansial sering diambil secara impulsif tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonomi. Yuni mencontohkan kasus mahasiswa yang terpaksa mengambil cuti kuliah karena tidak mampu membayar biaya pendidikan, namun tetap mempertahankan gaya hidup konsumtif.
“Ini bukan soal tidak punya uang, tapi soal tidak punya perencanaan. Pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus itu tidak terasa, tapi efeknya besar,” ujarnya.
Yuni juga menyoroti kemudahan akses pinjaman online yang membuat sebagian anak muda merasa persoalan keuangan dapat diselesaikan secara instan. Ia mengingatkan, meski pencairan pinjaman dapat berlangsung cepat, risikonya bisa berkepanjangan.
“Pinjamannya cepat cair, tapi risikonya panjang. Banyak yang berpikir bisa selesai dengan ganti nomor, padahal data pribadi sudah tersebar,” katanya.

