BERITA TERKINI
Legislator Gerindra: Ketegangan Iran–Israel dan Bayang-bayang Penutupan Selat Hormuz Menguji Ekonomi Global

Legislator Gerindra: Ketegangan Iran–Israel dan Bayang-bayang Penutupan Selat Hormuz Menguji Ekonomi Global

JAKARTA — Anggota DPR dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai ekonomi global saat ini berada dalam situasi genting menyusul memanasnya konflik Iran–Israel dan munculnya bayang-bayang konfrontasi Amerika Serikat di kawasan Teluk. Menurutnya, perhatian dunia mengarah pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi salah satu nadi utama perdagangan energi.

Azis menekankan bahwa sejarah geopolitik kerap menunjukkan dunia tidak pernah benar-benar tenang di sekitar jalur energi. Ia menyebut Selat Hormuz sebagai arteri penting, karena sekitar seperlima minyak dunia melintasi kawasan tersebut. Jika jalur itu tersumbat bahkan hanya beberapa minggu, ia memperkirakan dampaknya akan terasa luas, mulai dari lonjakan harga energi, tekanan inflasi terhadap rumah tangga, hingga potensi guncangan stabilitas politik di berbagai negara.

Dalam keterangannya pada Kamis, 19 Maret, Azis mengatakan para pemimpin dunia “membaca peta yang sama” terkait krisis Teluk, namun dengan kepentingan berbeda. Di Washington, ia menilai Donald Trump melihat krisis itu dalam kerangka kepentingan lama Amerika Serikat, yakni memastikan jalur laut tetap terbuka bagi perdagangan dunia. Azis menyebut Amerika memandang stabilitas Selat Hormuz sebagai bagian dari arsitektur global yang dibangun sejak Perang Dunia II, sehingga Washington mendukung operasi militer Israel terhadap Iran dan menekan sekutunya untuk ikut menjaga jalur pelayaran di Teluk.

Namun, Azis juga menilai Amerika Serikat menyadari risiko besar jika konflik berubah menjadi invasi darat. Ia menyebut Iran berbeda dengan Irak maupun Afghanistan, sehingga perang darat dinilai berpeluang menjadi konflik panjang dan mahal. Karena itu, menurut Azis, strategi Washington kemungkinan bertumpu pada tekanan militer terbatas seperti serangan udara, operasi intelijen, serta tekanan ekonomi dengan harapan Iran kembali ke meja perundingan.

Di sisi lain, Azis menyampaikan Presiden China Xi Jinping membaca krisis Teluk secara pragmatis. Sebagai importir minyak terbesar di dunia, China dinilai akan merasakan dampak lebih cepat jika Selat Hormuz terganggu, terutama terhadap aktivitas industri di kota-kota besar. Azis mengatakan Beijing cenderung mengambil posisi diplomasi klasik China: menyerukan de-eskalasi, menolak terlibat dalam operasi militer, dan membuka diri sebagai mediator, karena stabilitas dianggap lebih penting dibanding kemenangan pihak tertentu.

Sementara itu, Azis menilai Presiden Rusia Vladimir Putin memiliki kalkulasi berbeda. Rusia, menurutnya, tidak menginginkan Iran runtuh, tetapi juga tidak tergesa-gesa mengakhiri konflik. Dalam logika geopolitik Kremlin, Azis menyebut krisis yang menyibukkan Amerika Serikat di Timur Tengah dapat mengurangi fokus Washington terhadap Eropa dan mendorong kenaikan harga energi global, sehingga membuka ruang manuver bagi Rusia.

Dari kawasan Teluk, Azis menyoroti posisi Arab Saudi yang disebutnya berada dalam dilema. Iran merupakan rival strategis Riyadh, namun perang besar juga berisiko merusak stabilitas kawasan yang menjadi jantung ekonomi Teluk. Karena itu, ia menilai Arab Saudi mengambil sikap sangat berhati-hati: mendukung tekanan terhadap Iran, tetapi tidak ingin wilayahnya menjadi pangkalan perang terbuka.

Azis juga memaparkan tekanan yang dihadapi Tehran. Ia menyebut sejak Revolusi 1979, strategi Iran memiliki prinsip memperluas medan konflik jika diserang. Dalam pandangannya, Iran tidak selalu bertujuan memenangkan perang secara cepat, melainkan membuat konflik menjadi mahal bagi lawan melalui kemampuan misil balistik, drone, dan jaringan milisi regional sebagai bentuk eskalasi asimetris.

Adapun bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Azis menilai konflik dengan Iran merupakan bagian dari pertarungan panjang. Israel disebut memandang Iran sebagai ancaman strategis terbesar, sehingga operasi militer terhadap target-target Iran dilihat sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk melemahkan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di kawasan. Menurut Azis, dari perspektif Tel Aviv, menunda konfrontasi justru dinilai memperbesar ancaman di masa depan.

Azis kemudian menyederhanakan peta kepentingan global menjadi tiga lingkar. Pertama, lingkar ofensif yang ia sebut terdiri dari Amerika Serikat dan Israel. Kedua, lingkar perlawanan yang ia tempatkan pada Iran dan jaringan militannya. Ketiga, lingkar penyeimbang yang mencakup China, Rusia, serta sebagian negara Teluk dan Eropa. Di antara ketiganya, ia menegaskan ada satu titik yang sama-sama diawasi: Selat Hormuz, yang ia gambarkan sebagai “katup raksasa” ekonomi global.

Jika merujuk pola sejarah konflik di Timur Tengah, Azis memperkirakan krisis berpotensi bergerak dalam tiga arah. Pertama, perang besar dinilai kecil kemungkinan berubah menjadi invasi darat ke Iran karena negara itu terlalu besar dan kompleks untuk ditaklukkan cepat. Kedua, konflik berpeluang meluas secara regional ke wilayah seperti Lebanon, Suriah, Irak, hingga Laut Merah, namun tetap diupayakan berada dalam batas yang dikendalikan kekuatan besar. Ketiga, ia menyebut kejutan terbesar bisa datang dari sisi ekonomi: gangguan nyata di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi dan tekanan sosial di berbagai negara.

Azis menutup pernyataannya dengan menekankan rapuhnya peradaban modern yang bertumpu pada minyak, perdagangan, dan keseimbangan kekuasaan. Menurutnya, para pemimpin dunia di Washington, Beijing, Moskow, Riyadh, Tehran, dan Tel Aviv membaca peta yang sama, tetapi membayangkan masa depan yang berbeda. Ia menegaskan, jika Selat Hormuz tertutup, meski hanya sebentar, dampaknya dapat mengingatkan dunia tentang betapa strategisnya kendali atas jalur energi.