BERITA TERKINI
Laporan Citi: Perdagangan Global Berubah Cepat Dipicu Tarif, AI, dan Rantai Pasok yang Kian Regional

Laporan Citi: Perdagangan Global Berubah Cepat Dipicu Tarif, AI, dan Rantai Pasok yang Kian Regional

Citi merilis edisi terbaru laporan Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) berjudul “Pembiayaan Rantai Pasok: Perdagangan Global yang Tangguh di Era AI”. Laporan tersebut menyoroti perdagangan global tengah mengalami transformasi fundamental yang didorong volatilitas tarif, adopsi kecerdasan buatan (AI), serta pergeseran menuju rantai pasok yang makin multipolar dan regional.

Dalam laporan itu, Citi menilai bahwa meski dihadapkan pada tantangan besar, pelaku bisnis menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi yang cepat terhadap perubahan kebijakan. Perusahaan juga disebut tetap menjaga fokus strategis pada diversifikasi serta optimasi modal kerja.

Global Head of Trade and Working Capital Citi, Adoniro Cestari, menyatakan teknologi secara mendasar mengubah cara pembiayaan perdagangan beroperasi. Menurutnya, pemrosesan dokumen cerdas berbasis AI meningkatkan akurasi dan mempercepat proses hingga dapat dilakukan dalam hitungan menit.

“Melalui uji coba pembayaran perdagangan bersyarat berbasis blockchain, kami melihat adanya potensi evolusi dari jaminan standar berbasis kertas menuju eksekusi digital dan otomasi penyelesaian pembayaran dalam waktu hampir 24/7,” kata Adoniro Cestari, dikutip dari keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Laporan tersebut memadukan wawasan industri dari Global Supply Chain Pressure Index (GSCPI), arus pembayaran dari proses bisnis Services Citi yang disebut bernilai lebih dari US$5 triliun per hari, serta hasil survei yang menghimpun tanggapan perusahaan multinasional dan usaha kecil menengah (UKM).

Di tengah kenaikan tarif Amerika Serikat (AS) yang disebut meningkat menjadi sekitar 16,8 persen dari 2,4 persen sebelum perubahan kebijakan Pemerintah AS, indeks menunjukkan tekanan terhadap rantai pasok tetap rendah dan mendekati level pra-pandemi. Citi menyebut perusahaan mampu melewati guncangan awal tarif melalui manajemen inventaris yang strategis, diversifikasi pemasok, serta percepatan inisiatif nearshoring.

Analisis barang dagang dalam laporan itu juga menggambarkan reorganisasi perdagangan global yang kompleks. Asia Selatan dan ASEAN disebut menjadi pemenang utama, dengan peningkatan pengiriman 44 persen dari Asia Utara dan Asia Timur.

Amerika Latin dinilai semakin terintegrasi dalam rantai pasok yang terkait dengan Asia dan Amerika Utara. Ekspor Amerika Latin ke Asia Selatan dan ASEAN dilaporkan melonjak 82 persen, yang disebut sebagai peningkatan terbesar secara global.

Di sisi lain, AS disebut mendiversifikasi basis impornya. Pengiriman dari Asia Selatan dan ASEAN meningkat 50 persen, sedangkan dari Amerika Latin naik 43 persen. Kedua angka tersebut melampaui pertumbuhan 32 persen dari Asia Utara dan Asia Timur.

Laporan Citi turut menelaah peran AI dalam mendorong fenomena yang disebut langka, yaitu siklus super belanja modal pada pusat data. Citi Research memperkirakan belanja modal terkait AI secara global akan mencapai US$7,75 triliun pada 2030.

Dalam konteks itu, pembiayaan perdagangan disebut kian penting, mencakup solusi dari pembiayaan rantai pasok hingga program piutang terstruktur untuk mendukung pengembangan pusat data AI yang kompleks dan padat modal.

Adopsi AI dalam pembiayaan perdagangan juga dilaporkan meningkat pesat. Sebanyak 36 persen perusahaan besar kini menggunakan alat AI, naik 18 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Berbagai jenis inovasi ini, dikombinasikan keahlian penstrukturan, membantu perusahaan untuk meningkatkan likuiditas dan mengoptimalkan modal kerja sambil mendukung rantai pasok yang lebih efisien, serta pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan besar-besaran yang sedang berlangsung secara global,” ujar Adoniro Cestari.

Laporan tersebut mencatat manajemen modal kerja menjadi kebutuhan bagi jajaran eksekutif, dengan 64 persen perusahaan menyebut kenaikan biaya input sebagai kekhawatiran utama. Rata-rata, 6,3 persen modal kerja saat ini disebut terikat untuk mendanai biaya tarif.

Untuk merespons tekanan tersebut, perusahaan menerapkan pembiayaan inventaris, program piutang terstruktur, serta skema diskon dinamis guna melepaskan likuiditas yang terperangkap.

Survei Citi terhadap 710 perusahaan besar menunjukkan 65 persen perusahaan secara aktif mendiversifikasi rantai pasok dari satu atau lebih negara. Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko disebut muncul sebagai destinasi pilihan.