Kondisi hutan dunia terus menghadapi tekanan. Laporan terbaru Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat, meski laju kehilangan hutan global mulai melambat, dunia masih kehilangan sekitar 10,9 juta hektare hutan per tahun pada periode 2015–2025. Sejak 1990, total sekitar 489 juta hektare hutan hilang, dengan porsi terbesar terjadi di kawasan tropis.
Di sisi lain, laporan World Resources Institute (WRI) menunjukkan bahwa pada 2024 dunia kehilangan sekitar 6,7 juta hektare hutan primer. Angka itu meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya, dipicu kebakaran hutan, ekspansi pertanian, serta penebangan yang tidak berkelanjutan. Kehilangan hutan dalam skala besar disebut tidak hanya merusak keanekaragaman hayati, tetapi juga melepaskan miliaran ton emisi karbon yang mempercepat krisis iklim global.
Setiap 21 Maret, dunia memperingati International Day of Forests atau Hari Hutan Sedunia yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Peringatan ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran hutan sebagai salah satu sistem penopang kehidupan di bumi, terutama di tengah krisis iklim, tekanan terhadap sumber daya alam, dan meningkatnya kebutuhan pangan global.
FAO mencatat, dunia saat ini masih memiliki sekitar 4,06 miliar hektare hutan, atau sekitar 31 persen dari total daratan bumi. Hutan menjadi habitat bagi sekitar 80 persen keanekaragaman hayati daratan dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 1,6 miliar orang. Bagi banyak komunitas, terutama masyarakat adat dan masyarakat pedesaan, hutan menyediakan makanan, obat-obatan, energi, serta bahan baku untuk kebutuhan sehari-hari.
Dari sisi ekonomi, FAO menyebut sektor kehutanan formal menyediakan pekerjaan bagi lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia. Di luar itu, terdapat ratusan juta orang yang bergantung pada hasil hutan nonkayu. Berbagai produk seperti kayu, kertas, resin, rotan, madu, dan tanaman obat menjadi bagian dari rantai ekonomi global yang nilainya disebut mencapai triliunan dolar setiap tahun.
Hutan juga berperan dalam menjaga sistem pangan. Selain menyediakan sumber pangan langsung seperti buah, biji-bijian liar, jamur, dan satwa, hutan turut menjaga kesuburan tanah, mengatur siklus air, serta menciptakan iklim mikro yang mendukung produktivitas pertanian. Sejumlah penelitian juga menunjukkan wilayah dengan tutupan hutan yang sehat cenderung memiliki ketahanan pangan yang lebih baik.
Dalam konteks perubahan iklim, hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami. FAO mencatat hutan menyimpan sekitar 662 miliar ton karbon di seluruh dunia. Melalui fotosintesis, pepohonan menyerap karbon dioksida dari atmosfer sehingga membantu menekan laju pemanasan global.
Namun, manfaat besar ini dibayangi ancaman deforestasi dan alih fungsi lahan. FAO memperkirakan sekitar 10 juta hektare hutan hilang setiap tahun akibat deforestasi, perubahan penggunaan lahan, dan aktivitas ekonomi yang tidak berkelanjutan. Kerusakan hutan dinilai meningkatkan risiko banjir, kekeringan, serta degradasi tanah yang berdampak langsung pada kehidupan manusia.
Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menegaskan keterkaitan hutan dengan air dan pangan. Menurutnya, ketika hutan rusak, siklus air terganggu, produktivitas tanah menurun, dan pada akhirnya ketahanan pangan masyarakat ikut terancam. Karena itu, pengelolaan hutan yang berkelanjutan dipandang sebagai bagian penting dari upaya global untuk mencapai pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
Hari Hutan Sedunia 2026 kembali mengingatkan bahwa upaya menjaga hutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga internasional, tetapi juga seluruh masyarakat. Perlindungan hutan dinilai berkaitan langsung dengan upaya menjaga sumber air, memperkuat ekonomi lokal, serta memastikan generasi mendatang tetap memiliki lingkungan yang layak dihuni.