KTT Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) ke-49 menempatkan keamanan ekonomi sebagai salah satu agenda utama di tengah dinamika ekonomi global yang bergejolak. Pertemuan ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari hambatan non-tarif di kawasan hingga penguatan mekanisme pemantauan implementasi Rencana Strategis Komunitas Ekonomi ASEAN pasca-2025.
Dalam pembahasan ekonomi makro, negara-negara ASEAN mencatat proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan pada 2025 sebesar 4,5%, turun dari 4,8% pada 2024. Inflasi diperkirakan berada di level 2,4%. Sementara itu, total perdagangan barang pada tiga kuartal pertama 2025 diproyeksikan mencapai US$3,2 triliun.
Negara-negara ASEAN menegaskan kembali peran sentral ASEAN dalam kerja sama ekonomi dan perdagangan regional. Mereka juga mengakui kemajuan dalam pelaksanaan integrasi ekonomi di dalam ASEAN, sekaligus menguraikan arah kebijakan untuk memperdalam perdagangan dan investasi intra-ASEAN.
Pertemuan tersebut kembali menegaskan komitmen pada sistem perdagangan multilateral yang terbuka, transparan, dan berbasis aturan. Dalam konteks itu, ASEAN menekankan pentingnya memantau perkembangan kebijakan perdagangan global secara cermat, mengoordinasikan posisi di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), serta melindungi kepentingan negara-negara anggota.
Konferensi juga mencatat penyesuaian mekanisme operasional HLTF-EI serta pemeliharaan dialog Saluran 1.5 tentang geoekonomi. Sejalan dengan perubahan lingkungan geoekonomi yang cepat, para peserta membahas penguatan keamanan ekonomi ASEAN dengan menekankan pendekatan yang bertumpu pada keterbukaan, diversifikasi, dan integrasi yang lebih mendalam. Dalam diskusi itu, turut dipertimbangkan kemungkinan pengembangan Kerangka Keamanan Ekonomi ASEAN.
Selain isu keamanan ekonomi, agenda lain yang dibahas meliputi status Target Prioritas Ekonomi (PED) Filipina untuk 2026, peninjauan dan amandemen fungsi serta kegiatan AEC, reformasi jadwal pertemuan Komunitas Ekonomi ASEAN, hingga mekanisme pemantauan dan pelacakan implementasi rencana strategis setelah 2025. Pertemuan juga mengangkat agenda pembangunan berkelanjutan, termasuk ekonomi sirkular, netralitas karbon, dan ekonomi biru, serta membahas Memorandum Kerja Sama antara ASEAN dan Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk periode 2026–2030.
Dalam partisipasinya, Vietnam menyatakan dukungan terhadap inisiatif kerja sama ekonomi prioritas Filipina selama Kepemimpinan ASEAN pada 2025 dan bertukar pandangan mengenai agenda terkait.
Di sela-sela konferensi, negara-negara ASEAN mengikuti lokakarya tentang Keamanan Ekonomi ASEAN yang memfokuskan pembahasan pada rekomendasi kebijakan. Beberapa pendekatan yang dibahas mencakup penguatan mekanisme koordinasi antar pilar, peningkatan kerja sama di bidang prioritas seperti manajemen perdagangan strategis, rantai pasokan strategis, ekonomi digital, energi serta ketahanan pangan, dan penguatan ketepatan waktu serta fleksibilitas melalui dialog, keterlibatan pemangku kepentingan, dan mekanisme peringatan dini.
Konferensi HLTF-EI ke-49 ditutup dengan rekomendasi mengenai integrasi ekonomi ASEAN yang akan disampaikan pada Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN yang dijadwalkan pada Maret 2026.

