BERITA TERKINI
OECD: Konflik Iran Pangkas Prospek Penguatan Ekonomi Global, Risiko Inflasi Meningkat

OECD: Konflik Iran Pangkas Prospek Penguatan Ekonomi Global, Risiko Inflasi Meningkat

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menilai perang Iran telah menghapus peluang penguatan pertumbuhan ekonomi global pada 2026. Konflik di Timur Tengah itu memicu lonjakan harga energi dan mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga meningkatkan risiko inflasi yang lebih tinggi.

Dalam proyeksinya, OECD memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global melambat dari 3,3% pada tahun lalu menjadi 2,9% pada 2026, lalu naik tipis menjadi 3% pada 2027. Sebelum perang meletus, ekonomi dunia disebut berada pada jalur yang lebih kuat dari perkiraan, dengan indikasi awal pertumbuhan global 2026 berpotensi direvisi naik sekitar 0,3 poin persentase. Namun, peluang tersebut dinilai telah hilang akibat dampak konflik.

Kepala OECD Mathias Cormann menyatakan ketidakpastian mengenai durasi dan besarnya konflik membuat risiko penurunan tetap besar. Kondisi ini membuka kemungkinan pertumbuhan lebih rendah, sementara inflasi lebih tinggi dibanding proyeksi saat ini.

OECD menyusun proyeksi dengan asumsi gangguan pasar energi akan berangsur mereda dan harga minyak, gas, serta pupuk mulai turun sejak pertengahan 2026. Meski begitu, dalam skenario yang lebih buruk, pertumbuhan global dapat lebih rendah 0,5 poin persentase pada tahun kedua guncangan, sementara inflasi bisa lebih tinggi 0,9 poin persentase.

Inflasi negara-negara G20 kini diperkirakan mencapai 4% pada 2026, atau 1,2 poin persentase lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, sebelum turun menjadi 2,7% pada 2027.

Konflik Iran juga dinilai memperumit situasi perdagangan global yang sebelumnya sudah terbebani kebijakan tarif Amerika Serikat. Meski tarif bilateral AS menurun setelah putusan Mahkamah Agung, tingkat tarif efektif secara keseluruhan masih jauh lebih tinggi dibanding sebelum 2025.

Untuk Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat dari 2% pada 2026 menjadi 1,7% pada 2027, sementara inflasi utama diperkirakan mencapai 4,2% pada 2026. China diproyeksikan tumbuh 4,4% pada 2026 dan 4,3% pada 2027. Kawasan euro diperkirakan hanya tumbuh 0,8% pada 2026 sebelum meningkat ke 1,2% pada 2027. Jepang diproyeksikan tumbuh 0,9% pada 2026 dan 2027.

Arab Saudi tetap diproyeksikan tumbuh 4% pada 2026, namun proyeksi 2027 diturunkan 0,3 poin persentase menjadi 3,6%.

OECD meminta bank sentral tetap waspada menghadapi tekanan harga. Pemerintah juga diminta memastikan bantuan bagi rumah tangga benar-benar tepat sasaran serta dibatasi waktunya.