PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi Kawasan Industri Krakatau (KIK) sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional. Komitmen itu disampaikan Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan dalam rangkaian Krakatau Industrial Business Gathering 2026.
Akbar mengatakan langkah tersebut ditempuh untuk menangkap peluang investasi global sekaligus mendorong transformasi kawasan menuju kawasan ekonomi khusus (KEK). Ia menekankan, sebagai tuan rumah kawasan industri, Krakatau Steel Group akan memberikan layanan cepat dan transparan, serta mempermudah proses investasi bagi tenant dan investor.
Menurut Akbar, kolaborasi menjadi kunci untuk membangun kawasan industri yang kompetitif. Sejalan dengan pesan Presiden Prabowo pada World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, mengenai pentingnya stabilitas dan ekosistem industri yang kuat, Krakatau Steel menyatakan komitmennya tidak hanya memperkuat bisnis inti baja, tetapi juga membangun ekosistem industri terpadu yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Akbar juga menyebutkan langkah ekspansi internasional perusahaan. Setelah menjalin kemitraan strategis dengan Korea Selatan dan Jepang, investor asal Tiongkok disebut telah bergabung untuk membangun fasilitas bijih plastik di Cilegon. Ia menambahkan, dalam waktu dekat investasi pabrik EV truck dan proyek strategis lainnya akan menyusul.
Forum Krakatau Industrial Business Gathering 2026, lanjut Akbar, menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun ekosistem kawasan industri yang berdaya saing, adaptif terhadap dinamika global, serta memperkuat kolaborasi guna menangkap peluang investasi baru.
Krakatau Steel juga mendorong transformasi KIK menuju status KEK. Status tersebut diyakini dapat menghadirkan insentif fiskal, kemudahan perpajakan, fasilitas kepabeanan, serta penyederhanaan perizinan yang signifikan bagi investor.
Akbar menyatakan, penguatan infrastruktur manufaktur terintegrasi ini merupakan bagian dari dukungan Krakatau Steel Group terhadap agenda Astacita Presiden Prabowo Subianto, yang ditujukan untuk mendorong transformasi struktur ekonomi Indonesia agar lebih produktif, inklusif, dan kompetitif di tingkat global.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020—2024 Sandiaga Salahuddin Uno yang hadir sebagai pembicara utama mendorong optimisme tenant di KIK. Ia menilai ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan di atas 5 persen, dan meningkatnya daya saing kawasan industri menjadi faktor penting yang membuka ruang investasi lebih luas.
Sandiaga menyebut kawasan industri sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang berkontribusi besar terhadap PDB, penciptaan lapangan kerja, dan ekspor nonmigas. Dengan kondisi PMI manufaktur yang ekspansif pada 2026, ia menilai ini merupakan momentum untuk menjadi pelaku awal dalam berinvestasi.
Ia juga menekankan bahwa masa depan kawasan industri terletak pada integrasi konsep Special Economic Zone (SEZ) dan Green Economy. Menurutnya, dukungan energi terbarukan, konektivitas logistik yang efisien, serta prinsip keberlanjutan menjadi syarat untuk menarik minat investor global. Sandiaga menambahkan, keberlanjutan dapat menjadi nilai tambah bisnis melalui inovasi, adaptasi, dan kolaborasi, sehingga kawasan industri dapat bertransformasi menjadi ekosistem unggulan yang menarik investasi berkualitas sekaligus memperkuat basis ekspor nasional.

