Dunia usaha tengah mencari cara beradaptasi di tengah gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya yang dipicu konflik di Timur Tengah. Isu tersebut menjadi sorotan dalam Program Kopi Bisnis bertema “Konflik Timur Tengah - Dampak pada Bisnis” yang diselenggarakan Asosiasi Bisnis Kota Ho Chi Minh (HUBA) pada 21 Maret.
Mantan Duta Besar Vietnam untuk Amerika Serikat sekaligus anggota Dewan Penasihat Pemerintah, Pham Quang Vinh, menilai konflik yang memasuki pekan keempat itu belum menunjukkan tanda akan berakhir, sehingga skenario “kemenangan cepat” tidak terwujud. Meski area konflik disebut terbatas, dampaknya meluas secara global, terutama terhadap perdagangan dan energi.
Pham Quang Vinh mengatakan, bahkan jika konflik berakhir dalam sebulan ke depan, konsekuensi ekonomi tetap akan terasa. Menurutnya, kontrak komersial jangka panjang berpotensi menumpuk untuk diproses dan dinegosiasikan ulang, sementara fasilitas minyak dan gas yang rusak membutuhkan waktu pemulihan. Dalam situasi tersebut, ia menekankan pentingnya prioritas pada manajemen risiko.
Perwakilan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Kota Ho Chi Minh menyampaikan bahwa konflik telah mendorong kenaikan tajam harga bahan bakar yang berdampak ke hampir semua sektor ekonomi. Empat sektor dinilai paling terpengaruh, yakni elektronik, tekstil dan garmen, pertanian, serta kayu dan furnitur.
Industri elektronik disebut paling terdampak dengan penurunan pertumbuhan yang signifikan: dari target awal sekitar 14% menjadi sekitar 9%. Tekstil dan garmen dinilai paling sensitif terhadap fluktuasi biaya dan jadwal pengiriman, dengan proyeksi pertumbuhan turun menjadi sekitar 4%. Sektor pertanian menghadapi risiko kenaikan biaya dan potensi penurunan kualitas produk akibat waktu transportasi yang lebih lama. Adapun industri kayu dan furnitur menghadapi tekanan ganda dari kenaikan biaya transportasi dan melemahnya daya beli di pasar internasional.
Selain biaya, risiko hukum dalam kontrak internasional juga menjadi perhatian. Perusahaan diminta meninjau klausul terkait force majeure seperti konflik dan perang, yang dinilai semakin sering muncul di tengah ketidakstabilan geopolitik. Dalam praktiknya, banyak sengketa diselesaikan melalui arbitrase komersial internasional, sering berlangsung di pusat seperti Singapura. Namun, kemampuan negosiasi dan penyusunan kontrak sejumlah perusahaan Vietnam dinilai masih terbatas, sehingga dapat merugikan ketika terjadi sengketa. Karena itu, perusahaan didorong memasukkan klausul yang memungkinkan pemilihan arbitrase domestik atau mekanisme lain yang dinilai lebih sesuai untuk menekan risiko.
Di tengah kenaikan biaya energi, sejumlah ahli menilai tantangan juga dapat membuka peluang. Jika pandemi COVID-19 mendorong pertumbuhan e-commerce, gelombang kenaikan harga energi dinilai mempercepat pergeseran menuju energi hijau. Industri yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil diperkirakan akan lebih sulit menyusun rencana bisnis yang stabil, sehingga transisi ke sumber energi alternatif—terutama listrik—dipandang sebagai opsi yang layak.
Vietnam disebut memiliki keunggulan dalam pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, dengan sejumlah proyek besar direncanakan di Can Gio, Ba Ria - Vung Tau, serta pusat energi Long Son. Arah ini dipandang dapat menjadi fondasi bagi pelaku usaha untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dan lebih proaktif mengendalikan biaya produksi.
Dari sisi pelaku usaha, Ketua Dewan Direksi Viet Thang Jean, Pham Van Viet, menyebut tarif pengiriman kontainer 40 kaki akan naik tajam mulai 22 Maret menjadi 4.500–5.500 dolar AS. Ia mengatakan, sebelumnya juga telah muncul berbagai biaya tambahan, termasuk asuransi transportasi akibat peningkatan risiko, sehingga tarif pengiriman tetap tinggi.
Untuk industri tekstil dan garmen, Pham Van Viet menyampaikan biaya bahan baku saat ini sekitar 52% dari biaya pesanan untuk metode ODM dan FOB. Pada bisnis pengolahan, rasio itu dapat mencapai 70–75%, bahkan 80% untuk item tertentu. Ia menambahkan, harga bahan baku—terutama bahan kimia dan bahan pengolahan—baru-baru ini meningkat rata-rata sekitar 18%, sehingga menambah tekanan pada biaya produksi.
Meski dua bulan pertama tahun ini mencatat pertumbuhan ekspor 12,6%—lebih tinggi dari laju pertumbuhan keseluruhan industri Kota Ho Chi Minh—prospek sepanjang tahun dinilai tetap menantang. Perusahaan disebut telah memperluas pasar ke Jepang, Kanada, dan ASEAN untuk mengurangi ketergantungan, namun Amerika Serikat dan Uni Eropa masih menyumbang 55–60% dari omzet ekspor, sehingga tingkat risiko dinilai tetap tinggi.
Tekstil dan garmen juga menghadapi risiko tambahan karena sifat musiman. Keterlambatan pengiriman dapat memicu penumpukan persediaan yang sulit dijual. Pengalaman pada masa pandemi COVID-19 disebut menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghabiskan persediaan berlebih. Karena itu, perusahaan terpaksa membagi pesanan menjadi lebih kecil untuk menekan risiko, meski langkah tersebut meningkatkan biaya dan beban operasional.
Ketua Asosiasi Bisnis Jasa Logistik Vietnam sekaligus Wakil Presiden Federasi Internasional Asosiasi Pengangkut Barang (FIATA), Dao Trong Khoa, menekankan bahwa eskalasi konflik, khususnya di wilayah Selat Hormuz, menimbulkan tantangan besar bagi transportasi global.
Ia menyebut biaya pengiriman naik 54% hingga 72%, sementara premi asuransi risiko perang meningkat dua hingga empat kali lipat dan berpotensi mencapai sekitar 1 juta dolar AS per kapal yang melintasi wilayah Hormuz. Sejumlah perusahaan pelayaran besar seperti MSC, Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd dilaporkan menangguhkan rute atau mengalihkan rute melalui Afrika, yang menyebabkan waktu transit meningkat dua hingga tiga kali lipat.
Dao Trong Khoa juga menyoroti penerapan klausul “penghentian pelayaran” oleh sebagian perusahaan pelayaran. Klausul ini memungkinkan kargo dibongkar di pelabuhan perantara yang aman dan mewajibkan pengirim menanggung biaya yang timbul. Dalam praktiknya, terdapat kasus kapal menunggu di area gerbang Hormuz selama berminggu-minggu sebelum berbalik arah, sehingga mengganggu rantai pasok secara signifikan.
Menurutnya, koridor transportasi laut-darat baru memang telah dibangun, namun waktu transit dari Asia Tenggara ke Timur Tengah kini mencapai 40–45 hari, dibanding 10–15 hari sebelumnya. Peran transit dari pusat seperti Dubai juga disebut berkurang tajam. Gangguan tidak hanya terjadi pada transportasi laut; transportasi udara turut terdampak karena penutupan sejumlah wilayah udara. Maskapai seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways disebut sempat menangguhkan operasi, dengan kapasitas yang baru pulih sekitar 60%.
Survei Asosiasi Bisnis Jasa Logistik Vietnam pada 3–11 Maret menunjukkan 80–90% bisnis terdampak moderat hingga parah, dengan 42% responden menilai fluktuasi biaya sebagai tantangan terbesar. Tiga tekanan utama yang diidentifikasi adalah biaya yang meningkat cepat namun sulit diprediksi, waktu pengiriman yang tidak stabil, serta kesulitan memenuhi komitmen pengiriman.
Di sisi lain, banyak pelaku usaha ragu menaikkan harga secara signifikan karena khawatir kehilangan pelanggan. Pada saat yang sama, mereka tetap perlu menjaga hubungan jangka panjang dengan mitra dengan semangat “menyelaraskan manfaat dan berbagi risiko”.
FIATA merekomendasikan tiga kelompok solusi utama: manajemen risiko kontrak, pemantauan operasional secara real-time, dan komunikasi proaktif dengan pelanggan. Langkah yang disarankan mencakup peninjauan klausul force majeure, penyesuaian rencana perjalanan, penambahan biaya tambahan dan asuransi, serta penegasan tanggung jawab semua pihak.
Bagi perusahaan logistik, rekomendasi meliputi penyusunan rencana transportasi yang fleksibel dengan berbagai rute alternatif, pembaruan biaya tambahan secara berkala, konsultasi terkait ketentuan Incoterms, serta promosi transportasi multimoda. Transformasi digital dan transformasi hijau juga didorong untuk mengoptimalkan operasional, menghemat energi, dan menekan biaya. Sementara bagi pengirim barang, penyusunan rencana kontingensi, diversifikasi pasar, dan penguatan koordinasi dengan perusahaan pengiriman barang dinilai penting untuk meminimalkan risiko.
“Krisis di Timur Tengah tidak hanya meningkatkan biaya logistik tetapi juga memaksa rantai pasokan global untuk melakukan restrukturisasi menuju fleksibilitas dan multimodalitas yang lebih besar. Ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi bisnis untuk beradaptasi dan meningkatkan daya saing mereka,” kata Dao Trong Khoa.