Jakarta, 19 Januari 2026 — Komisi XII DPR RI membahas isu hilirisasi serta ketahanan industri nikel nasional dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama PT Vale Indonesia Tbk, Senin (19/1). Rapat tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan parlemen terhadap industri strategis di tengah dinamika ekonomi global.
Dalam pertemuan itu, anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir menyampaikan apresiasi atas kinerja PT Vale sepanjang 2025 yang dinilai tetap terjaga meski harga nikel global berada dalam tekanan. Ia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan produksi dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
Forum RDP juga menyoroti bahwa stabilitas produksi dan penjualan dipandang mencerminkan keberlanjutan agenda hilirisasi nasional. Menurut Jalal, hal itu turut menopang rantai pasok strategis, khususnya bagi pengembangan baterai dan kendaraan listrik, sekaligus menjaga kontribusi sektor nikel terhadap perekonomian nasional.
Jalal mendorong optimalisasi produksi yang disertai efisiensi operasional agar kinerja korporasi terus meningkat dan mampu memberikan manfaat fiskal secara berkelanjutan. Ia menilai langkah tersebut perlu ditempuh secara konstruktif dan hati-hati.
RDP turut membahas proyek-proyek pengembangan yang sedang berjalan. Proyek tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai tambah sumber daya alam dan mendorong penciptaan lapangan kerja, dengan tetap mengedepankan tata kelola yang pruden dan terukur.
Selain itu, Jalal menekankan perlunya pengawalan material balance nikel bersama kementerian terkait agar kebutuhan global dapat terpetakan dengan baik serta stabilitas harga tetap terjaga. Ia juga menggarisbawahi pentingnya koordinasi lintas pemangku kepentingan dalam pengelolaan komoditas strategis tersebut.
Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG) turut mendapat perhatian dalam rapat, termasuk capaian keselamatan kerja dan langkah dekarbonisasi. Jalal menilai hal itu sejalan dengan arah kebijakan pembangunan berkelanjutan dan transisi energi nasional.
Ke depan, ia mendorong penguatan sinergi riset dengan perguruan tinggi di dalam dan luar negeri agar produk nikel Indonesia tetap relevan dengan kebutuhan jangka panjang dunia.

