Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan pasar energi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang dinilai meningkatkan risiko terganggunya pasokan minyak dari kawasan tersebut. Menurut laporan CNBC, dalam skenario terburuk, dampak gangguan pasokan dapat meluas hingga mendorong ekonomi global ke jurang resesi.
Iran merupakan salah satu pemain penting di pasar minyak. Negara itu saat ini tercatat sebagai produsen minyak terbesar keempat di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi melampaui 3 juta barel per hari pada Januari.
Posisi geografis Iran juga dinilai strategis karena memiliki garis pantai yang berbatasan dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang vital bagi perdagangan minyak dunia. Setiap eskalasi di sekitar wilayah ini berpotensi memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak global.
CNBC menilai, dalam jangka panjang, pasar minyak tampaknya telah meremehkan risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Bob McNally, mantan penasihat energi Gedung Putih pada era Presiden George W. Bush, mengatakan para pedagang meremehkan risiko yang dapat muncul jika Iran melakukan pembalasan yang berdampak pada pasar.
Dengan besarnya peran Iran dalam produksi OPEC dan pentingnya Selat Hormuz bagi arus perdagangan minyak, perkembangan konflik di kawasan tersebut menjadi faktor yang terus dipantau pelaku pasar karena dapat memengaruhi harga minyak dan stabilitas ekonomi global.

