Kementerian Pertanian dan Lingkungan Hidup menyerukan kepada komunitas bisnis dan asosiasi untuk berbagi beban dengan petani di tengah ketidakpastian global yang diproyeksikan meningkat pada 2026. Seruan itu disampaikan melalui surat Menteri atas nama pimpinan Kementerian.
Dalam surat tersebut, Menteri menyampaikan apresiasi kepada dunia usaha dan asosiasi atas kontribusi mereka selama bertahun-tahun dalam pengembangan pertanian dan lingkungan. Kontribusi itu dinilai membantu sektor pertanian mempertahankan perannya sebagai “pilar” perekonomian di tengah berbagai perubahan.
Kementerian juga mencatat capaian sektor pada 2025 yang disebut menghasilkan kinerja positif. Pertumbuhan PDB sektor ini mencapai 3,78%, sementara ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan menembus rekor tertinggi sebesar US$70,09 miliar, melampaui target yang ditetapkan. Capaian tersebut disebut menjadi fondasi untuk memasuki 2026 dengan harapan pertumbuhan yang lebih tinggi.
Namun, Kementerian memproyeksikan 2026 akan diwarnai banyak tantangan. Konflik di Timur Tengah dinilai mengganggu rantai pasokan global, mendorong kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku. Kondisi itu berimbas pada meningkatnya biaya produksi, menurunnya daya saing barang, serta memberi tekanan signifikan bagi pelaku usaha dan petani.
Dalam situasi tersebut, Kementerian menetapkan tujuan untuk menstabilkan produksi, memastikan pasokan bahan baku, mengendalikan biaya, dan menjaga rantai pasokan. Pada saat yang sama, sektor ini diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan memanfaatkan sumber daya secara efisien demi pembangunan berkelanjutan.
Menteri mendesak pelaku usaha agar proaktif beradaptasi dan berbagi kesulitan dengan produsen dalam semangat “manfaat yang harmonis, risiko yang dibagi bersama.” Secara khusus, perusahaan pemasok bahan dan layanan logistik diminta menjaga stabilitas, bahkan menurunkan harga, serta mengoptimalkan pasokan guna mengurangi beban biaya petani.
Selain itu, pelaku usaha diminta menjaga pengadaan, meningkatkan cadangan, dan melakukan pengolahan lebih lanjut, terutama pada musim panen. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi fenomena “panen melimpah, harga rendah” sekaligus membantu memastikan pendapatan petani.
Kementerian juga mendorong penguatan keterkaitan rantai pasokan melalui perluasan kerja sama dengan koperasi dan petani, serta pengembangan pasar domestik sebagai dukungan penting. Di sisi lain, pelaku usaha diharapkan melakukan diversifikasi pasar ekspor, memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas (FTA), dan mempromosikan perdagangan.
Dalam surat tersebut, transformasi hijau dan pembangunan berkelanjutan disebut sebagai tren yang tidak terhindarkan. Kementerian menekankan penerapan model ekonomi sirkular, pengurangan emisi, serta kepatuhan terhadap standar internasional.