PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kapitalisasi pasar selama sepekan terakhir meningkat 1,29% menjadi Rp15.079 triliun, dari Rp14.888 triliun pada pekan sebelumnya. Data tersebut disampaikan BEI melalui siaran pers di Jakarta.
Sejalan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,23% dan ditutup pada level 8.118,301, dibanding 8.099,333 pada pekan lalu. Namun, rata-rata nilai transaksi harian mengalami perubahan 11,24% menjadi Rp25,02 triliun dari Rp28,19 triliun pada pekan sebelumnya.
Dari aktivitas investor asing, BEI mencatat nilai beli bersih sebesar Rp199,79 miliar pada sepekan kemarin. Sementara sepanjang tahun 2025, investor asing membukukan nilai jual bersih Rp56,71 triliun.
Di sisi aktivitas perdagangan, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 6,68% menjadi 2,62 juta kali transaksi, dari 2,46 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian juga naik 5,61% menjadi 49,72 miliar lembar saham, dari 47,08 miliar lembar saham.
Untuk pasar surat utang, total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang 2025 mencapai 135 emisi dari 73 emiten dengan nilai Rp155,39 triliun. Secara keseluruhan, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 637 emisi dengan nilai outstanding Rp517,39 triliun dan US$117,27 juta, yang diterbitkan oleh 136 emiten.
Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 191 seri, dengan nilai nominal Rp6.423,84 triliun dan USD352,10 juta. BEI juga mencatat terdapat 7 emisi Efek Beragun Aset (EBA) dengan nilai Rp2,13 triliun.
Pada perdagangan Jumat (3/10), IHSG ditutup menguat 47,22 poin atau 0,59% ke posisi 8.118,30. Indeks LQ45 turut naik 1,90 poin atau 0,24% ke posisi 785,19. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut penguatan rupiah terhadap dolar AS serta aksi korporasi sejumlah emiten menjadi faktor positif yang mendorong penguatan IHSG.
Pelaku pasar pada pekan ini disebut akan mencermati data cadangan devisa periode September 2025 yang diperkirakan naik menjadi US$159 miliar dari US$150,7 miliar pada Agustus 2025. Selain itu, pasar juga menanti rilis Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) September 2025 yang diperkirakan meningkat ke level 120 dari 117,2 pada Agustus 2025.

