BERITA TERKINI
Kadin Bidik Pangan dan Manufaktur untuk Dorong UKM Masuk Rantai Pasok

Kadin Bidik Pangan dan Manufaktur untuk Dorong UKM Masuk Rantai Pasok

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan sektor pangan dan manufaktur sebagai pintu masuk bagi usaha kecil dan menengah (UKM) untuk terlibat dalam rantai pasok perekonomian, termasuk peluang masuk ke jaringan yang lebih luas.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Aviliani mengatakan, pelaku UKM saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan. Meski kerap disebut sebagai pilar ekonomi nasional, ia menilai kondisi di lapangan menunjukkan tantangan besar yang membuat banyak UKM sulit berkembang.

Dalam acara Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1/2026), Aviliani menyoroti intervensi pemerintah yang selama ini lebih banyak bertumpu pada sisi penawaran melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Menurutnya, pendekatan tersebut belum cukup efektif ketika permintaan pasar rendah, sehingga suplai yang tersedia tidak terserap. Ia menyebut situasi ini tercermin pada meningkatnya kredit macet UKM di perbankan.

Karena itu, Aviliani mendorong peran sektor swasta untuk lebih aktif menggandeng UKM agar menjadi bagian dari rantai pasok. “Oleh karena itu, yang perlu dipikirkan oleh sektor swasta adalah bagaimana kita membangun yang kita bicarakan sebagai close look, jadi menggandeng UKM untuk menjadi bagian dari supply chain,” ujarnya.

Ia menilai mayoritas UKM masih berada dalam pola bisnis bertahan hidup (survival mode), sehingga sulit melakukan ekspansi atau “naik kelas”. Dengan integrasi ke rantai pasok sektor swasta, UKM diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan membuka peluang pertumbuhan usaha.

Kadin, kata Aviliani, akan memulai langkah tersebut dari sektor pangan karena dinilai paling mudah dilakukan dan sejalan dengan agenda pemerintah terkait kemandirian pangan. “Di sini peran Kadin, bagaimana bisa menjadi bagian dari supply chain. Kita mulai dengan pangan, karena pangan ini yang paling mudah, di mana pemerintah ingin kemandirian pangan,” katanya.

Kolaborasi awal, lanjut Aviliani, dapat dimulai dengan merangkul petani dan peternak yang juga menjadi fokus pengembangan pemerintah. “Jadi, yang paling mudah nanti dengan petani dan peternak yang juga ingin dikembangkan oleh pemerintah,” ujarnya.

Selain pangan, Kadin juga melihat sektor manufaktur memiliki potensi besar untuk melibatkan UKM. Organisasi tersebut mendorong sektor swasta menggerakkan unit-unit UKM di bidang manufaktur agar dapat terhubung ke rantai pasok yang lebih terstruktur.

Langkah Kadin ini disebut sejalan dengan komitmen pemerintah. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional di tengah ketidakpastian global. Di sisi lain, sektor manufaktur Indonesia juga menunjukkan performa positif, dengan indeks PMI berada di level 51,2 pada Desember 2025, didorong permintaan domestik yang kuat dan penyerapan tenaga kerja.