Jumlah miliarder di dunia pada 2025 dilaporkan telah menembus 3.000 orang. Dalam setahun terakhir saja, sekitar 340 miliarder baru muncul secara global. Di tengah lonjakan tersebut, Elon Musk disebut-sebut berpeluang menjadi triliuner pertama di dunia.
Pertumbuhan kekayaan miliarder disebut paling signifikan terjadi di Amerika Serikat. Sepuluh orang terkaya di negara itu tercatat menambah harta hampir USD 700 miliar hanya dalam waktu satu tahun.
Di saat yang sama, pengaruh kelompok superkaya dalam politik Amerika Serikat dinilai semakin terlihat. Ketika Presiden Donald Trump dilantik untuk kedua kalinya, sejumlah CEO teknologi tampak duduk di barisan terdepan acara tersebut. Sejumlah tokoh superkaya juga disebut masuk dalam kabinet dan mendorong kebijakan yang dinilai menguntungkan kalangan elite.
“Tahun 2025 adalah tahun yang luar biasa bagi para miliarder,” kata Rebecca Riddell, pemimpin kebijakan senior untuk keadilan ekonomi di Oxfam America, dikutip dari oxfamamerica.org.
Lonjakan kekayaan itu terjadi di tengah meningkatnya beban biaya hidup, mulai dari harga kebutuhan pokok, perumahan, biaya penitipan anak, hingga layanan kesehatan.
Kekayaan segelintir orang melampaui separuh dunia
Laporan Oxfam menyebut 12 orang terkaya di dunia kini menguasai harta yang nilainya melebihi total kekayaan separuh populasi global. Temuan ini kembali menyoroti jurang ketimpangan ekonomi yang disebut semakin melebar.
Dalam laporan sebelumnya yang diterbitkan pada 2024, Oxfam menilai praktik sejumlah korporasi turut memperparah ketimpangan dan memperkaya pemilik modal. Tanpa pengawasan ketat dari pemerintah, dunia dinilai berisiko memasuki era yang disebut sebagai “supremasi miliarder.”
Oxfam juga menyoroti aktivitas lobi perusahaan besar. Sepanjang 2024, perusahaan yang terafiliasi dengan 10 orang terkaya dunia tercatat menghabiskan sekitar US$88 juta untuk aktivitas lobi di Amerika Serikat, baik secara langsung maupun melalui asosiasi dagang, dengan tujuan melindungi kepentingan pemegang saham dan memaksimalkan keuntungan.
Selain itu, sebagian besar keuntungan perusahaan dinilai lebih banyak mengalir ke pemegang saham ketimbang untuk investasi jangka panjang atau peningkatan kesejahteraan pekerja. Di sektor kesehatan Amerika Serikat, misalnya, sekitar 95% laba perusahaan besar disebut dibagikan kepada pemegang saham.
Dampak pada pekerja dan upah layak
Ketika kepentingan pemegang saham lebih diutamakan, dampaknya kerap dirasakan pekerja. Sejumlah korporasi dinilai menggunakan pengaruhnya untuk menolak kebijakan yang berpihak pada buruh, termasuk kenaikan upah minimum.
Beberapa perusahaan juga disebut mendorong pembatasan peran serikat pekerja serta mendukung pelonggaran aturan ketenagakerjaan, termasuk yang berkaitan dengan pekerja anak.
Analisis Oxfam terhadap data World Benchmarking Alliance yang mencakup lebih dari 1.600 perusahaan besar global menunjukkan hanya sekitar 0,4% perusahaan yang secara terbuka menyatakan komitmen membayar upah layak kepada karyawannya.
Krisis sebagai momentum akumulasi kekayaan
Di tengah kondisi ekonomi global yang semakin menantang, kekayaan para miliarder disebut terus meningkat. Sebagian di antaranya dinilai mampu memanfaatkan situasi krisis untuk memperbesar aset.
Fenomena tersebut disebut terlihat saat pandemi COVID-19, ketika sejumlah perusahaan farmasi global mencatat lonjakan keuntungan. Padahal, sebagian besar riset dan pengembangan vaksin didukung oleh pendanaan publik.
Dalam periode itu, beberapa perusahaan terkait disebut sempat mengancam akan menarik investasi dari negara-negara yang mendukung pencabutan perlindungan hak kekayaan intelektual. Langkah tersebut bertujuan agar vaksin dan pengobatan dapat diproduksi lebih luas serta lebih mudah diakses masyarakat global.
Oxfam juga menyoroti bahwa berbagai sektor vital seperti pendidikan, pangan, kesehatan, dan perumahan semakin banyak dikelola swasta dengan orientasi keuntungan. Sementara itu, anggaran layanan publik di sejumlah negara disebut mengalami pemangkasan. Kondisi ini dinilai turut mendorong kenaikan biaya hidup yang semakin membebani masyarakat.
Lonjakan jumlah miliarder dan konsentrasi kekayaan yang semakin tinggi kembali memunculkan pertanyaan tentang pemerataan manfaat pertumbuhan ekonomi global—apakah benar dinikmati secara luas, atau justru semakin terkunci di tangan segelintir orang.

