JPMorgan menaikkan target harga untuk sejumlah saham terkait nikel, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), seiring menguatnya harga nikel dan munculnya kembali narasi pengetatan pasokan.
Pergerakan saham-saham tersebut belakangan ikut menjadi perhatian pasar setelah harga nikel di London Metal Exchange (LME) naik lebih dari 20% sejak akhir 2025 dan menembus level di atas US$ 18.000 per ton. Kenaikan ini terjadi setelah sekitar tiga tahun harga nikel tertekan di tengah kekhawatiran pasokan berlebih.
Salah satu faktor yang mendorong pemulihan harga adalah rencana pengurangan produksi nikel di Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah menetapkan kebijakan pemangkasan produksi bijih nikel nasional pada 2026, meski belum merinci besaran pengurangannya. Menurutnya, langkah ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan nikel global agar harga tetap stabil.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey menyampaikan pada pertengahan Desember 2025 bahwa pemerintah berencana menetapkan kuota produksi bijih nikel sekitar 250 juta ton dalam RKAB 2026. Angka tersebut lebih rendah dibanding target RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton. Dalam perkembangan terbaru, RKAB disebut telah disetujui, yang memunculkan harapan harga nikel dapat lebih stabil.
Di sisi lain, ekspektasi kelebihan pasokan yang selama ini membayangi industri nikel dinilai belum sepenuhnya terlihat pada kondisi fisik. International Nickel Study Group (INSG) sempat memproyeksikan surplus produksi nikel sekitar 209.000 metrik ton, namun surplus itu belum tercermin pada stok fisik. Stok nikel di LME disebut hanya meningkat sekitar 93.000 ton pada periode November 2024 hingga November 2025. Riset S&P Global yang dirilis 29 Desember 2025 juga mencatat pelaku pasar menyoroti bahwa sistem RKAB berkontribusi pada persepsi “oversupply” yang dinilai berlebihan.
Dalam riset bertajuk Best of Asean, Asean Metals yang terbit 9 Januari 2026, JPMorgan menilai masih terdapat narasi pasokan yang berpotensi menjadi katalis tambahan bagi reli harga nikel. Dengan RKAB yang telah disetujui, bank tersebut menilai ada peluang kondisi surplus yang sebelumnya dikhawatirkan dapat berubah menjadi defisit, meski realisasinya bergantung pada sejumlah faktor, termasuk asumsi kadar bijih dan penyesuaian atas pengurangan izin.
JPMorgan juga menilai dampak awal pengetatan pasokan akan lebih dulu dirasakan oleh penjualan bijih di sektor hulu. Setelah itu, produk setengah jadi seperti nikel pig iron (NPI) diperkirakan baru akan mengalami kenaikan harga ketika peleburan non-terintegrasi mulai menutup kapasitas produksi akibat meningkatnya biaya bahan baku bijih.
Dalam riset tersebut, ANTM, INCO, dan MDKA disebut menjadi pilihan JPMorgan, dengan peringkat yang lebih tinggi dibanding riset sebelumnya. Berikut ringkasan pertimbangan dan prospek masing-masing emiten berdasarkan riset tersebut.
ANTM: target harga Rp4.500 per saham
JPMorgan menaikkan target harga ANTM menjadi Rp4.500 per saham. Pada penutupan perdagangan Senin, 19 Januari 2026, harga ANTM berada di Rp4.000 per saham, sehingga terdapat potensi kenaikan menuju target tersebut.
ANTM dinilai menarik karena memiliki kadar bijih tinggi sekitar 1,7%, yang disebut menjadi pilihan bagi mayoritas smelter untuk campuran. Selain itu, JPMorgan memproyeksikan pemulihan volume penjualan emas—yang bersumber dari impor dan aktivitas tambang blok Freeport—dapat terjadi pada paruh kedua tahun ini.
INCO: peringkat naik menjadi overweight
INCO mendapatkan peningkatan peringkat dari neutral menjadi overweight. JPMorgan mempertimbangkan bahwa sekitar 70% penjualan bijih nikel INCO berasal dari limonit. JPMorgan juga menilai INCO dapat memanfaatkan opsi kepemilikan pada proyek HPAL yang akan datang, yang pada akhirnya berpotensi meningkatkan kontribusi pendapatan dari entitas afiliasi.
Namun, terdapat catatan terkait perizinan produksi. Dalam forum Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto menyampaikan bahwa RKAB 2026 perusahaan telah disetujui, tetapi kuota produksi yang diberikan sekitar 30% dari total volume yang sebelumnya diajukan. Manajemen menilai kuota yang relatif rendah ini berpotensi menjadi risiko karena bisa tidak cukup untuk memenuhi komitmen pasokan bijih nikel yang menjadi dasar operasional dan pengembangan sejumlah pabrik hilirisasi nikel di beberapa lokasi, termasuk Sorowako, Pomalaa, dan Bahodopi. Perusahaan berharap mendapat kesempatan mengajukan revisi RKAB agar target produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional proyek.
Sebelumnya, keterlambatan persetujuan RKAB sempat membuat Vale menghentikan sementara kegiatan tambang karena dokumen tersebut merupakan syarat wajib untuk melanjutkan operasi. Setelah RKAB 2026 terbit, operasional dapat kembali berjalan meskipun dengan target produksi yang direvisi.
MDKA: peringkat naik menjadi overweight
MDKA juga memperoleh kenaikan peringkat menjadi overweight. JPMorgan menilai saham MDKA masih tertinggal secara valuasi dibanding dua entitas anak usaha yang telah melantai di bursa, yakni MBMA dan EMAS, dengan selisih performa sekitar 20%–77% dalam enam bulan terakhir.
Ke depan, MDKA diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat setelah berada di titik impas pada 2025, seiring peningkatan produksi dari tambang emas Pani Gold Project serta dukungan harga emas yang tetap tinggi. Selain itu, tren kenaikan harga tembaga disebut dapat menjadi katalis tambahan mengingat eksposur perseroan terhadap komoditas tersebut.
Meski demikian, JPMorgan juga mencatat tantangan jangka pendek. Laporan keuangan 2025 diproyeksikan masih mencatat kerugian sekitar Rp75 miliar karena Tambang Pani baru mulai berkontribusi secara bertahap, sementara output awal belum cukup untuk menutup biaya tetap operasional dan overhead grup. Di sisi lain, meskipun EMAS dan MBMA dinilai berkinerja baik, kontribusinya disebut masih terbatas.
Dengan kenaikan target harga dari JPMorgan dan perubahan persepsi pasar terkait pasokan nikel, pergerakan harga nikel serta implementasi kebijakan produksi di Indonesia akan menjadi faktor yang terus dicermati pelaku pasar dalam menilai prospek saham-saham nikel ke depan.

