BERITA TERKINI
Isu Greenland dan Tarif AS-UE Mengguncang Pasar, Harga Minyak Tetap Tertekan Surplus Pasokan

Isu Greenland dan Tarif AS-UE Mengguncang Pasar, Harga Minyak Tetap Tertekan Surplus Pasokan

Perkembangan terkait Greenland dan rencana tarif Presiden AS Donald Trump terhadap Eropa menjadi sorotan pasar global, termasuk pasar minyak. Meski pelemahan dolar AS sempat memberi dukungan bagi harga komoditas, tekanan penurunan pada minyak tetap kuat karena ketidakseimbangan penawaran dan permintaan.

Pada pukul 14.40 tanggal 20 Januari (waktu Vietnam), harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Maret 2026 turun 16 sen atau 0,3% menjadi US$63,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka untuk pengiriman Februari 2026 naik 14 sen atau 0,2% menjadi US$59,58 per barel.

Upaya Trump untuk mengendalikan Greenland disebut mengguncang pasar, berdampak signifikan pada dolar AS, serta memicu kekhawatiran mengenai potensi perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE).

Mukesh Sahdev, CEO perusahaan konsultan XAnalysts Pty Ltd, menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan skenario pembalasan skala penuh antara AS dan UE, karena masih ada anggapan kedua pihak dapat menemukan kompromi. Namun, ia juga menyebut jika ketegangan meningkat, AS berpotensi memperoleh keuntungan berkat keunggulan ekonomi dan pasokan energi domestiknya.

Di pasar valuta asing, melemahnya dolar AS memberikan dukungan bagi minyak dan komoditas lainnya. Meski demikian, harga minyak tetap berada di bawah tekanan akibat sinyal pasokan yang jauh melebihi permintaan. Badan Energi Internasional (IEA) berulang kali memperingatkan potensi surplus minyak tahun ini.

Warren Patterson dari bank investasi ING menyatakan prospek kelebihan pasokan yang besar mengindikasikan kecenderungan harga minyak untuk melemah. Ia juga menilai kemungkinan meningkatnya ketegangan tarif AS-UE dapat menambah risiko penurunan.

Di sisi lain, pasar minyak mendapat dukungan dari data ekonomi positif Tiongkok. Tony Sycamore, analis pasar di perusahaan pialang IG, menilai kondisi ekonomi negara pengimpor minyak terbesar di dunia itu telah meningkatkan sentimen permintaan. Data pemerintah menunjukkan ekonomi Tiongkok tumbuh 5% pada 2025, sesuai target.