Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026), sebuah jalur strategis di kawasan Teluk Arab yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia. Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi internasional.
Menurut laporan Reuters, IRGC menyampaikan peringatan melalui siaran radio bahwa kapal-kapal tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz. Selat ini selama ini menjadi jalur penting distribusi minyak mentah menuju berbagai kawasan, termasuk Eropa dan Amerika.
Penutupan Selat Hormuz dinilai berisiko tinggi karena sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati jalur tersebut. Jika penutupan dilakukan secara total, pasokan minyak dunia berpotensi terganggu dan dapat mendorong lonjakan harga minyak di pasar internasional, yang pada gilirannya dapat memicu tekanan terhadap perekonomian global.
Keputusan Iran ini diambil setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi (28/2/2026) di Teheran, ibu kota Iran. Serangan tersebut kemudian diikuti aksi balasan dari Iran yang dilaporkan mengirimkan drone dan rudal ke Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Dengan meningkatnya eskalasi konflik, perhatian dunia kini tertuju pada dampak lanjutan penutupan Selat Hormuz terhadap arus perdagangan energi dan kondisi ekonomi global.

