Teheran, 1 Maret 2026 — Pemerintah Iran dikabarkan membatasi pelayaran di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama Teluk Persia dengan Laut Arab, setelah serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global dan mendorong prediksi kenaikan tajam harga minyak dalam waktu dekat.
Selat Hormuz berada di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Jalur laut sempit ini merupakan satu-satunya rute laut dari Teluk Persia menuju perairan lepas, sekaligus menjadi koridor utama ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk, termasuk Saudi Arabia, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran.
Karena posisinya yang krusial, lebih dari 20 persen minyak dunia dan volume besar gas melewati selat tersebut setiap hari. Aktivitas perdagangan energi yang padat membuat gangguan kecil sekalipun berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap pasokan dan harga energi global.
Menurut laporan, serangan udara besar oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 memicu eskalasi ketegangan militer di kawasan Teluk dan berujung pada kematian Ali Khamenei. Sebagai respons, unit militer dan otoritas setempat Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal di perairan sekitar Selat Hormuz bahwa rute pelayaran saat ini “tidak diizinkan dilintasi”. Situasi itu memunculkan laporan bahwa selat ditutup sementara atau mengalami gangguan lalu lintas, meski status formal penutupan masih dipantau otoritas maritim internasional.
Ancaman penutupan maupun pembatasan pelayaran di Selat Hormuz dinilai bukan sekadar respons simbolis, melainkan taktik geopolitik yang dapat berdampak langsung pada perekonomian global. Pasar minyak cenderung bereaksi cepat ketika muncul risiko gangguan pasokan dari salah satu jalur energi terpenting dunia.
Para analis energi memperkirakan, jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, harga minyak mentah global berpotensi melonjak dan bisa melampaui level tertinggi beberapa bulan terakhir. Kenaikan tersebut mencerminkan premi risiko yang diperhitungkan pasar atas kemungkinan berkurangnya pasokan, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan biaya energi pada produk turunan seperti bensin dan LPG.
Lonjakan harga energi juga berisiko memengaruhi biaya produksi dan transportasi serta mendorong inflasi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk. Dalam perkembangan terkini, ketidakpastian geopolitik disebut telah mendorong harga minyak naik ke level yang tidak terlihat sejak beberapa bulan terakhir, seiring pasar memasukkan risiko gangguan di Selat Hormuz.
Meski penutupan penuh jalur ini disebut sulit dipertahankan secara permanen mengingat kepentingan banyak negara dan pengawasan internasional, ancaman gangguan sementara saja dinilai cukup untuk mengguncang pasar minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian di sektor energi.

