Nilai tukar rupiah melanjutkan tren pelemahan dan disebut hampir menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS. Menyikapi kondisi tersebut, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan pentingnya langkah pemerintah dan bank sentral untuk menjaga stabilitas.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufiqurrahman, menilai pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal melalui pengelolaan defisit dan utang secara prudent. Menurutnya, langkah itu berperan dalam menjaga stabilitas kurs rupiah dari guncangan global.
Ia juga menekankan perlunya konsistensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas moneter, termasuk melalui komunikasi kebijakan yang jelas dan independen. Rizal menyebut sinergi kebijakan tersebut perlu diperkuat dengan intervensi pasar yang terukur serta upaya struktural untuk memperkuat sektor eksternal, agar rupiah tidak hanya stabil dalam jangka pendek, tetapi juga lebih tahan menghadapi guncangan ke depan.
Rizal memproyeksikan rupiah masih berada dalam fase tekanan dan volatilitas tinggi. Ia menilai pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik, bukan semata-mata pelemahan fundamental ekonomi.
Menurutnya, selama ketidakpastian global masih kuat dan arus modal asing belum sepenuhnya stabil, rupiah cenderung bergerak pada kisaran yang rentan melemah. Meski demikian, ia menyebut peluang stabilisasi tetap terbuka apabila kepercayaan pasar membaik.
“Dengan kata lain, tekanan masih berlanjut, risiko pelemahan menengah tetap ada, target APBN sekitar Rp 16.500 per USD, kemungkinan menuju dekat Rp 17.000 per USD,” ujar Rizal, dikutip Minggu (25/1).
Dari sisi eksternal, Rizal menyebut beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah, antara lain arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), penguatan dolar AS, serta risiko eskalasi geopolitik di tingkat global.

