BERITA TERKINI
IMF: Guncangan Harga Energi Picu Risiko Inflasi Naik dan Pertumbuhan Global Melambat

IMF: Guncangan Harga Energi Picu Risiko Inflasi Naik dan Pertumbuhan Global Melambat

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan meningkatnya risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global seiring berlanjutnya kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Dalam pernyataannya pada 19 Maret, IMF menilai gangguan produksi dan transportasi energi dapat mendorong tekanan harga sekaligus menekan aktivitas ekonomi di berbagai negara.

Direktur Komunikasi IMF Julie Kozack mengatakan lembaganya memantau tiga dampak utama dari guncangan energi saat ini, yaitu pergerakan harga komoditas, tren dan ekspektasi inflasi, serta kondisi keuangan global. Menurutnya, ketiga faktor tersebut akan menentukan besarnya dan arah dampak fluktuasi energi terhadap stabilitas makroekonomi global pada periode mendatang.

IMF menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah, termasuk risiko gangguan di Selat Hormuz, telah memengaruhi sekitar 20% pasokan minyak global serta pengiriman gas alam cair melalui jalur laut. Selain itu, gangguan pengiriman pupuk dan hambatan rantai pasok global dinilai meningkatkan risiko kenaikan harga pangan. Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan bagi negara yang bergantung pada impor, karena kenaikan biaya input dapat cepat mendorong kenaikan harga konsumen.

IMF memperingatkan, apabila harga energi bertahan tinggi dalam jangka waktu lama, inflasi global bisa meningkat secara signifikan. Kozack menyebut setiap kenaikan harga energi sebesar 10% selama setahun berpotensi menaikkan inflasi global sekitar 0,4 poin persentase, sekaligus menurunkan output ekonomi sekitar 0,1% hingga 0,2%.

Di luar dampak langsung, IMF juga mencatat risiko rambatan biaya energi ke sektor lain seperti transportasi, manufaktur, dan jasa. Dampak lanjutan ini dapat mempersulit pengendalian ekspektasi inflasi, yang dipandang sebagai faktor penting bagi stabilitas ekonomi makro.

Di pasar keuangan, IMF mencatat volatilitas yang meningkat. Harga saham dilaporkan turun dan imbal hasil obligasi naik di sejumlah ekonomi utama seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa. Dolar AS menguat, sementara banyak mata uang negara berkembang melemah, sehingga menambah tekanan pada nilai tukar dan arus modal.

Pada tingkat regional, IMF menilai pertumbuhan di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) berpotensi melambat, meski harga energi yang tinggi dapat sebagian mengimbangi penurunan produksi di beberapa negara. Namun, besarnya dampak bergantung pada kemampuan memulihkan ekspor minyak dan gas dalam waktu dekat.

IMF juga menyinggung kondisi negara yang lebih rentan. Di Lebanon, konflik dinilai terus memperburuk krisis sosial-ekonomi yang sedang berlangsung. Sementara itu, beberapa negara seperti Mesir disebut sempat menjaga stabilitas pada tahap awal berkat langkah tata kelola yang proaktif.

IMF menyatakan belum menerima permintaan bantuan keuangan darurat dari negara anggota, namun tetap siap menggunakan instrumen yang diperlukan. IMF juga berencana merilis prospek ekonomi global terbaru pada April yang akan mencerminkan dampak konflik dan fluktuasi harga energi.

Sementara itu, dinamika harga energi memperbesar tantangan bank sentral dalam menyeimbangkan pengendalian inflasi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi. Di Jepang, Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Kazuo Ueda mengatakan fluktuasi harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dapat berdampak negatif pada perekonomian sekaligus meningkatkan tekanan inflasi. BOJ memutuskan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di sekitar 0,75% sembari memperingatkan adanya risiko baru terhadap prospek ekonomi dan harga.

Ueda menyoroti faktor nilai tukar. Pelemahan yen di tengah penguatan dolar meningkatkan biaya impor, terutama energi. Ia menilai fluktuasi nilai tukar saat ini dapat berdampak lebih kuat pada inflasi inti dibanding masa lalu, sehingga memerlukan pengawasan ketat.

Di Kanada, Bank of Canada (BoC) juga menahan suku bunga di 2,25%. Gubernur Tiff Macklem mengatakan kenaikan harga energi menciptakan tekanan inflasi jangka pendek, meski inflasi sebelumnya tetap mendekati target 2%. Macklem menyebut BoC menghadapi “dilema ganda”: menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi dapat melemahkan perekonomian, sedangkan melonggarkan kebijakan untuk mendukung pertumbuhan berisiko mendorong inflasi melampaui target.

BoC juga menilai Kanada tidak sepenuhnya diuntungkan dari kenaikan harga minyak meski merupakan pengekspor energi. Kenaikan pendapatan ekspor dapat terjadi, tetapi biaya energi yang lebih tinggi menekan rumah tangga dan bisnis, mengurangi konsumsi, dan berdampak pada pertumbuhan.

Di Zona Euro, Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah di tengah meningkatnya risiko akibat konflik di Timur Tengah. Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi. ECB menilai prospek ekonomi kawasan menjadi “sangat tidak pasti” karena guncangan pasar energi berisiko menyebar ke banyak sektor.

Dalam perkiraan terbaru yang disampaikan, inflasi Zona Euro dapat mencapai 2,6% pada 2026, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya terutama akibat dampak harga energi. Pada saat yang sama, proyeksi pertumbuhan direvisi ke bawah, mencerminkan dampak negatif kenaikan biaya input serta sikap hati-hati pelaku usaha dan konsumen. ECB menegaskan akan memantau perkembangan pasar secara cermat dan menjalankan kebijakan moneter secara fleksibel berbasis data untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka menengah.