Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sepanjang pekan ini setelah sempat menguat pada pekan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026), IHSG turun 0,46% ke level 8.951,01. Secara akumulatif selama sepekan, IHSG merosot 1,37%.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut pelemahan IHSG sepekan terakhir terjadi seiring meningkatnya tekanan jual di pasar. Menurutnya, pergerakan indeks dipengaruhi gabungan sentimen eksternal dan domestik.
Dari sisi global, salah satu faktor penekan berasal dari memanasnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Greenland, serta adanya ancaman pengenaan tarif impor terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencana tersebut. Meski demikian, Herditya menilai sentimen itu mulai mereda.
Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung bersikap wait and see dan mengalihkan dana ke aset berisiko rendah seperti emas. Kondisi ini turut mendorong harga emas dunia menguat hingga mencetak rekor tertinggi baru (all time high).
Sentimen negatif juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Tekanan pada rupiah dipicu kekhawatiran pasar terkait defisit fiskal Indonesia yang mendekati 3%.
Selain itu, investor masih mencermati kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), terutama terkait arah pelonggaran kebijakan ke depan serta rencana pergantian Gubernur The Fed.
Di pasar saham domestik, koreksi pada saham-saham konglomerasi turut membebani IHSG. Koreksi ini dipicu antisipasi perubahan metodologi MSCI yang dikhawatirkan dapat memicu arus keluar dana asing (outflow) dari pasar saham Indonesia.
Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pergerakan IHSG selama sepekan dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari luar negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan Bank of Japan yang mempertahankan suku bunga, ekspektasi arah kebijakan The Fed, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Herditya menambahkan, kenaikan harga emas dan logam mulia mencerminkan meningkatnya preferensi investor global terhadap aset lindung nilai. Di dalam negeri, pasar juga memantau potensi perubahan metode perhitungan free float oleh MSCI yang berisiko mendorong penyesuaian portofolio investor asing.
Meski nilai tukar rupiah disebut menguat ke kisaran Rp 16.800 per dolar AS, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendorong penguatan indeks secara signifikan.
Secara sektoral, tekanan paling besar terjadi pada sektor konsumer primer yang tertekan oleh kekhawatiran terhadap daya beli dan normalisasi pola konsumsi. Sementara itu, sektor kesehatan mencatatkan penguatan dan menjadi salah satu penopang indeks, mencerminkan minat investor pada sektor yang relatif defensif di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, saham berbasis komoditas kembali menarik perhatian seiring lonjakan harga emas, penguatan harga minyak, serta rebound harga nikel yang mencerminkan membaiknya sentimen terhadap sektor tambang dan energi.

