Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan sepekan 19–23 Januari 2026. Koreksi ini dipengaruhi sentimen geopolitik serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Sabtu (24/1/2026), IHSG turun 1,37% ke level 8.951,01 dalam sepekan. Pada pekan sebelumnya, IHSG tercatat naik 1,5% dan ditutup di posisi 9.075,40.
Meski melemah secara mingguan, IHSG sempat mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyebut IHSG ditutup pada level 9.134,70 pada Selasa, 20 Januari 2026.
Sejalan dengan pelemahan indeks, kapitalisasi pasar juga turun 1,62% menjadi Rp 16.244 triliun dari Rp 16.512 triliun pada pekan sebelumnya.
Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menuturkan pelemahan IHSG selama sepekan disertai munculnya tekanan jual. Ia memperkirakan pergerakan IHSG dipengaruhi beberapa faktor sentimen.
Pertama, memanasnya kondisi geopolitik terkait Amerika Serikat–Greenland serta ancaman pengenaan tarif impor terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencana tersebut, meski situasinya disebut mulai mereda.
Kedua, ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung bersikap wait and see dan berpindah ke aset berisiko rendah seperti emas. Kondisi itu turut mendorong penguatan harga emas dunia hingga membentuk rekor tertinggi baru.
Ketiga, Herditya menambahkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut menjadi perhatian, yang disebut berkaitan dengan kekhawatiran defisit fiskal Indonesia yang hampir mencapai 3%.

