BERITA TERKINI
IHSG Tertekan hingga Picu Trading Halt, Ini Strategi Investor dan Trader Saat Pasar Bergejolak

IHSG Tertekan hingga Picu Trading Halt, Ini Strategi Investor dan Trader Saat Pasar Bergejolak

Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 sempat mengalami tekanan signifikan. Koreksi tajam itu bahkan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) sebanyak dua kali dalam dua hari berturut-turut, dan menarik perhatian otoritas pasar modal, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, Certified Financial Planner Melvin Mumpuni menyarankan investor tetap selektif menempatkan dana, terutama pada saham-saham berfundamental kuat. Menurutnya, emiten dengan kinerja keuangan sehat, manajemen yang baik, serta prospek pertumbuhan jangka panjang dinilai lebih mampu bertahan saat pasar tertekan, terutama bagi investor pemula.

Melvin menjelaskan, portofolionya tidak terlalu terdampak penurunan tajam karena saham yang dipilih memiliki fundamental yang baik dan dibeli pada harga terdiskon. Ia menekankan pentingnya strategi pembelian pada harga yang wajar atau diskon, serta mengingatkan agar investor tidak masuk ke saham fundamental ketika valuasi sedang tinggi. Dalam kondisi koreksi, dampaknya bisa lebih terasa terhadap portofolio bila pembelian dilakukan pada harga yang sudah mahal.

Di sisi lain, ia menilai strategi trading jangka pendek tetap dapat dilakukan selama dijalankan secara disiplin. Melvin menekankan pentingnya memiliki rencana transaksi (trading plan) yang jelas dan konsisten, termasuk menetapkan batas kerugian (cut loss) untuk membatasi risiko ketika pergerakan harga tidak sesuai rencana.

Adapun gejolak IHSG tercatat sempat menekan indeks hingga level 7.654 pada akhir Januari 2026. Tekanan pasar disebut dipicu keraguan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap transparansi mekanisme free float di pasar modal Indonesia, yang berimbas pada pembekuan proses rebalancing indeks saham Indonesia.

Situasi tersebut juga diikuti mundurnya sejumlah pejabat OJK dan BEI sebagai bentuk tanggung jawab moral, yakni Mahendra Siregar (Ketua Dewan Komisioner OJK), Inarno Djajadi (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK), Ida Bagus Aditya Jayaantara (Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK), Mirza Adityaswara (Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK), serta Iman Rachman (Direktur Utama BEI).

Saat ini, OJK, BEI, dan self-regulatory organization (SRO) lainnya disebut tengah berupaya memenuhi standar MSCI. Proses penyesuaian tersebut ditargetkan rampung paling lambat sebelum Maret 2026.