BERITA TERKINI
IHSG Sempat Terkoreksi Lebih dari 1% di Pagi Hari, Saham Grup Prajogo Jadi Penekan Utama

IHSG Sempat Terkoreksi Lebih dari 1% di Pagi Hari, Saham Grup Prajogo Jadi Penekan Utama

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah cepat lebih dari 1% pada perdagangan pagi ini. Indeks turun ke level 8.868,4, dengan mayoritas saham berada di zona merah. Tercatat 476 saham melemah, sementara kapitalisasi pasar turun menjadi Rp16.188 triliun.

Namun, koreksi IHSG kemudian menyempit. Pada pukul 09.30, indeks berada di level 8.929 atau turun 0,7%. Nilai transaksi mencapai Rp7,4 triliun, melibatkan 14,64 miliar saham dalam 827.900 kali transaksi.

Data Refinitiv menunjukkan tekanan terbesar terhadap IHSG datang dari deretan saham terkait Prajogo Pangestu. Barito Pacific (BRPT), Petrosea (PTRO), dan Barito Renewables Energy (BREN) tercatat mengalami koreksi dan menjadi pemberat utama pergerakan indeks.

BRPT membebani IHSG sebesar 8,03 poin indeks, disusul BREN 7,4 poin dan PTRO 6,7 poin. Dari sisi persentase, penurunan terdalam dialami PTRO yang turun 10,44%. Sementara itu, BRPT melemah 3,64% dan BREN turun 2,11%.

Di sisi sentimen, pasar keuangan pada akhir pekan ini masih bergerak hati-hati. Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi faktor geopolitik, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, serta rilis data ketenagakerjaan AS.

Tekanan lain yang dinilai berpotensi memengaruhi pasar adalah meningkatnya risiko arus dana asing keluar apabila MSCI menerapkan formula baru dalam perhitungan free float saham di Bursa Efek Indonesia untuk indeks mereka. Dalam skema terbaru, MSCI tidak hanya melihat kepemilikan publik secara administratif, tetapi juga mempertimbangkan kualitas likuiditas dan aksesibilitas saham di pasar.

Dengan pendekatan tersebut, saham dengan porsi kepemilikan pengendali yang besar, likuiditas rendah, atau kepemilikan publik yang dinilai tidak benar-benar dapat diperdagangkan berisiko mengalami penurunan free float adjustment factor. Dampaknya, bobot saham Indonesia di indeks MSCI dapat tertekan, terutama pada emiten berkapitalisasi besar dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi.

Penyesuaian bobot ini berpotensi memicu penjualan teknikal oleh dana pasif dan ETF global yang mereplikasi indeks MSCI, sehingga memperbesar tekanan jual dalam jangka pendek. Selain itu, tekanan penjualan pada sejumlah saham dalam beberapa hari terakhir juga dinilai berkaitan dengan rebalancing MSCI edisi Februari mendatang.

Meski aturan baru perhitungan free float belum resmi diberlakukan, pasar disebut cenderung bergerak lebih dulu dengan mengantisipasi skenario terburuk. Ekspektasi tersebut turut mendorong penyesuaian harga pada saham-saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan premi valuasi berbasis narasi indeks, seiring perubahan penilaian investor terhadap likuiditas, struktur kepemilikan, dan aspek investability.