BERITA TERKINI
IHSG Menguat pada Perdagangan Pertama Usai Lebaran di Tengah Tekanan Geopolitik

IHSG Menguat pada Perdagangan Pertama Usai Lebaran di Tengah Tekanan Geopolitik

Jakarta—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada Rabu (25/3/2026), meski pasar dihadapkan pada berbagai sentimen negatif global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penguatan ini menjadi pembeda dibanding pola pelemahan yang terjadi pada pembukaan perdagangan pasca-Lebaran dalam dua tahun terakhir.

Sejumlah faktor eksternal sebelumnya dikhawatirkan menekan pergerakan IHSG, mulai dari memanasnya konflik Iran versus Israel–Amerika Serikat, lonjakan harga minyak, hingga sikap bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang dinilai lebih hawkish.

Secara historis, kinerja IHSG pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Idul Fitri menunjukkan peluang yang berimbang antara menguat dan melemah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016 hingga 2025, IHSG mencatatkan penguatan sebanyak lima kali dan pelemahan sebanyak lima kali saat bursa kembali dibuka.

Pergerakan indeks pada awal perdagangan pasca-libur umumnya mencerminkan penyesuaian harga (price-in). Selama bursa domestik tutup, dinamika makroekonomi global tetap berjalan. Berbagai sentimen eksternal, rilis data ekonomi, serta kebijakan internasional yang muncul selama periode libur akan direspons pasar secara bersamaan pada hari pertama perdagangan.

Contoh pelemahan terlihat pada pembukaan bursa pasca-Lebaran 2025, ketika IHSG terkoreksi 7,90% sebagai respons pasar terhadap pengumuman kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang muncul selama libur panjang. Kondisi serupa juga terjadi pada 2022, saat IHSG turun 4,42% seiring penyesuaian terhadap keputusan kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Di sisi lain, penguatan juga tercatat ketika terdapat katalis positif yang lebih dominan. Pada 2016, IHSG ditutup menguat 1,96% yang dikaitkan dengan respons positif pelaku pasar domestik maupun asing terhadap pengesahan undang-undang Tax Amnesty.

Rangkaian data tersebut mengindikasikan bahwa arah pergerakan IHSG setelah libur Lebaran lebih dipengaruhi sentimen makroekonomi dan kondisi fundamental ketimbang faktor musiman. Karena itu, pemantauan pergerakan bursa regional, harga komoditas, serta rilis data global selama bursa domestik libur dinilai relevan untuk memperkirakan arah pembukaan pasar dan menyusun strategi alokasi aset.

Meski IHSG menguat pada perdagangan Rabu ini, pasar tetap dibayangi potensi volatilitas dari faktor eksternal. Salah satu perhatian pelaku pasar adalah kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga di level 3,50–3,75% serta proyeksi pemangkasan suku bunga satu kali tahun ini, lebih sedikit dibanding proyeksi sebelumnya yang memperkirakan dua kali pemangkasan.

Keputusan suku bunga The Fed tersebut diumumkan pada Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026), ketika Indonesia masih dalam periode libur Lebaran. Dengan demikian, dampaknya disebut belum sepenuhnya tercermin dalam pergerakan pasar keuangan domestik selama masa libur.