BERITA TERKINI
IHSG Menguat pada 5 Maret 2026 Usai Koreksi Tajam, Investor Masih Waspadai Sentimen Global

IHSG Menguat pada 5 Maret 2026 Usai Koreksi Tajam, Investor Masih Waspadai Sentimen Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (5/3/2026), setelah pada sesi sebelumnya mengalami tekanan tajam yang dipicu sentimen global. Penguatan ini memunculkan kembali optimisme di pasar, meski ketidakpastian geopolitik dan kondisi ekonomi dunia masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan indeks.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat ke kisaran 7.695 dan sempat bergerak menuju area 7.700–7.760. Rebound tersebut terjadi setelah IHSG terkoreksi sekitar 4,57% pada perdagangan sebelumnya, yang tercatat sebagai salah satu penurunan terbesar dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah analis menilai penguatan ini sebagai technical rebound, yakni pemulihan sementara setelah koreksi tajam. Namun, ada pula pandangan yang melihat pergerakan tersebut sebagai sinyal awal stabilisasi pasar, bergantung pada bagaimana respons investor terhadap perkembangan sentimen eksternal dalam beberapa hari ke depan.

Saham-saham besar jadi penggerak

Penguatan IHSG pada sesi pagi ditopang sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Semen Indonesia Tbk tercatat melonjak lebih dari 7%. Sementara itu, saham PT Surya Citra Media Tbk menguat hampir 6%.

Dari sektor tambang, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk naik lebih dari 5%, seiring optimisme terhadap prospek komoditas global. Di luar saham-saham utama, beberapa emiten lapis dua dan tiga juga mengalami lonjakan hingga mendekati auto rejection atas (ARA), mencerminkan kembali meningkatnya minat spekulatif di pasar.

Hampir seluruh sektor menguat

Rebound IHSG turut tercermin pada penguatan mayoritas sektor. Sektor barang konsumsi primer memimpin dengan kenaikan lebih dari 4%, sektor yang kerap dipilih investor saat volatilitas meningkat karena dinilai lebih defensif.

Sektor barang konsumsi siklikal juga naik di atas 4%. Sektor industri serta bahan baku menguat di kisaran lebih dari 2–3%. Penguatan pada sektor konsumsi menunjukkan adanya minat investor terhadap saham-saham dengan permintaan yang dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sentimen global masih jadi perhatian

Meski menguat, pelaku pasar masih memantau sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah IHSG. Di antaranya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan global, arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia terutama Federal Reserve di Amerika Serikat, prospek pertumbuhan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia, serta pergerakan bursa global yang memengaruhi arus modal asing ke negara berkembang.

Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih selektif dalam memilih saham, terutama di tengah risiko perubahan sentimen yang cepat.

Aktivitas transaksi masih tinggi

Data perdagangan menunjukkan rebound kali ini berlangsung cukup luas. Lebih dari 600 saham tercatat menguat pada sesi pagi, jauh lebih banyak dibandingkan saham yang melemah. Nilai transaksi mendekati Rp10 triliun dengan frekuensi lebih dari 1 juta transaksi, menandakan aktivitas investor masih tinggi.

Penguatan ini juga menjadi sorotan karena pada perdagangan sebelumnya seluruh sektor sempat berada di zona merah. Selain itu, rebound IHSG sejalan dengan pemulihan sejumlah bursa Asia setelah tekanan global mulai mereda.

Rebound sementara atau awal pemulihan?

Pertanyaan yang mengemuka di kalangan investor adalah apakah penguatan ini menandai awal tren pemulihan atau hanya rebound jangka pendek. Sebagian analis menilai pasar masih berada dalam fase konsolidasi, sehingga pergerakan IHSG dalam waktu dekat berpotensi tetap volatil di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.

Namun, peluang penguatan lanjutan dinilai tetap terbuka apabila fundamental ekonomi domestik terjaga dan arus dana asing kembali masuk ke pasar.